The End Of Jamaah Islamiyah And The Last Terror?
The End Of Jamaah Islamiyah And The Last Terror? 27 Oktober 2022 Penulis: Gus Soffa Ihsan Jakarta. Penangkapan terhadap kelompok Jamaah Islamiyah (JI) tengah bertubi-tubi. Pihak berwenang tampaknya tak mau lagi kecolongan terjadinya kasus terorisme hingga semua yang yang berjejaring dengan JI harus dilibas. Parawijayanto dan Zulkarnaen, petinggi JI yang sedari lama bersembunyi berhasil ditekuk. Tidak hanya menyikat (hard power), tapi pihak berwenang juga memberikan pengampunan dosa melalui selebrasi ikrar untuk kembali ke NKRI bagi mereka semua yang terhubung dengan JI. Ratusan orang-orang JI di beberapa daerah seperti Lampung, Tangerang, dan lainnya sudah berikrar kembali ke NKRI serta membubarkan diri dari JI. Suatu kebijakan dan dorongan dari pemerintah yang humanis, dalam penanggulangan terorisme di Indonesia. Sangat jauh beda dengan misalnya di negara jiran, Singapura yang tegas tanpa ampun. Kasus Fajar Taslim, napiteroris asal Singapura yang 2022 lalu bebas dari Nusakambangan, langsung dijemput pihak Singapura untuk dijebloskan kembali di penjara negara pulau itu. Kabarnya, penjara Singapura jauh lebih seram dibanding Nusakambangan. Saat saya silaturahmi ke rumah istri Fajar Taslim di sebuah daerah di Jateng beberapa waktu lalu, terungkap pengakuan Fajar Taslim lewat istrinya bahwa penjara di Indonesia seperti laiknya hotel. Perlakuan pemerintah Indonesia sangat manusiawi. Ini yang membuat Fajar Taslim sendiri dalam pengakuan istrinya ingin tinggal di Indonesia. Nah, kini menyisakan pertanyaan, penangkapan beruntun terhadap petinggi dan anggota JI oleh aparat di Indonesia, akankah menjadikan kelompok JI menurun atau bahkan tamat? Bagaimana forecasting terhadap eksistensi dan dinamika sebuah kelompok teroris yang memiliki sanad sejarah panjang teror tersebut?. Sanad Al-Qaeda Ke JI Kasus-kasus terorisme yang terjadi di Indonesia dan dunia sebelum kemunculan ISIS, banyak dikaitkan dengan Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah (JI). JI merupakan jaringan terorisme globalnya Al-Qaeda. Kelompok teroris JI terlatih di berbagai medan, dari Afghanistan, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Dalam skala global, Al-Qaeda turut mempengaruhi pola serangan yang dilakukan JI. Eksistensi Al-Qaeda lebih dari sekedar perebutan kekuasaan dalam gerakan jihadis. Al-Qaedai memiliki penentuan musuh utama, strategi, taktik, dan masalah mendasar lainnya. Al-Qaeda berorientasi jihadisme global dan menyukai serangan-serangan besar dan dramatis terhadap sasaran-sasaran strategis atau simbolis. Serangan di WTC dan Pentagon pada 9/11 adalah yang paling menonjol. Ini sangat beda bila dibandingkan misalnya dengan ISIS yang berkembang dari perang sipil di Irak dan Suriah. ISIS berusaha untuk menaklukkan wilayah demi pendirian suatu Islamic State, dan dengan demikian ia menyebarkan artileri, kekuatan massa dan bahkan tank saat menyapu ke daerah-daerah baru atau mempertahankan daerah yang sudah direbut. Terorisme dalam konteks ini, adalah bagian dari perang revolusioner. Ia digunakan untuk merusak militer, memicu reaksi konflik sektarian atau menciptakan dinamika yang membantu penaklukan di suatu wilayah. Pengalaman tempur di medan-medan perang yang beragam membuat aksi-aksi teror JI bukan hanya lebih cermat, melainkan juga memiliki daya rusak yang luar biasa tinggi. Serangan Bom Bali I dan II yang dilakukan JI berdaya ledak lebih tinggi dibandingkan teror di Surabaya yang menggunakan bom pipa. Bom Bali I, misalnya, dengan berat 6 ton berhasil menewaskan 202 orang. Serangan yang dilakukan oleh JI lebih mematikan daripada yang dilakukan oleh ISIS/JAD. Pasca dihancurkannya sebagaian besar kekuatan Al-Qaeda oleh AS pada skala global, dan melemahnya aksi JI pasca tewasnya para pemimpin JI seperti Azhari dan Nurdin M Top, posisi JI mulai beringsut menyusut dan lalu gahar dipertontonkan oleh ISIS/JAD. Kabarnya Al-Qaeda bangkit kembali di Suriah. Muncul kelompok Hurras al-Din, pecahan dari kelompok Hayat Tahrir al-Syam yang sebelumnya bernama Fatah al-Syam dan Barisan al-Nusro. Mereka pecah karena menolak pandangan pemimpin Muhammad al-Julani yang lebih moderat dan pragmatis. Kelompok Hurras al-Din ini disebut-sebut merekrut banyak anggota ISIS yang kabur setelah ISIS tumbang di Irak dan Suriah. Setelah ISIS/JAD muncul, aksi teror dilakukan lewat jalur lone wolf, serta ada perubahan pada sasaran teror. Sasaran aksi terorisme tidak lagi simbol-simbol Barat seperti dilakukan oleh JI, melainkan justru masyarakat sipil, aparat keamanan, pemerintah, dan istana presiden. Kasus pada 25 Oktober 2022 barusan dipertontonkan oleh seorang perempuan bercadar bersenjata pistol rakitan yang coba terobos istana negara. Beruntung ditangkap oleh polisi. Ini contoh lelaku lone wolf. Amaliyat teror oleh perempuan seperti kasus ini menunjukkan pelaku tanpa jejaring atau dari sel-sel terputus masih menjadi ancaman teror di negeri kita. Dinamika dan Stagnasi Di era struktur sel non-hierarki yang didesentralisasi yang mampu mengeksploitasi teknologi informasi dan alat-alat globalisasi, ada kegelisahan baru untuk melakukan pendekatan lain dalam memotret jaringan teroris. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti terorisme telah mulai memberikan perhatian yang lebih besar pada pertanyaan bagaimana kelompok teroris reda atau berakhir. Fokus inikendati masih belum terlampau banyaktelah menjadi minat yang semakin besar untuk memahami sebagian dari pertanyaan tentang bagaimana kampanye teroris menurun. Lazimnya, banyak yang melihat pada bagaimana sekelompok organisasi teroris mampu bertahan dan terus melakukan aksinya sekalipun secara mandiri. Misalnya al-Qaeda yang terus bermetamorfosis dengan berbagi ideologi dan bekerja sama satu sama lain. Al-Qaeda mampu menaburkan virus militansinya yang kemudian melahirkan kelompok-kelompok teroris seperti, Front Islam Internasional untuk Jihad melawan Yahudi dan Tentara Salib, juga kelompok-kelompok dari Aljazair, Bangladesh, Mesir, dan Pakistan. Berbagai kelompok yang terhubung dalam beberapa cara termasuk Front Pembebasan Islam Moro (Filipina), Jamaah Islamiyah (Asia Tenggara), Jihad Islam Mesir (yang bergabung dengan al-Qaida pada tahun 2001), al-Ansar Mujahidin (Chechnya), Jama’ah al-Islamiyya Mesir), Gerakan Islam Uzbekistan, kelompok Salam di Aljazair, serta Harakat ul-Mujahidin di Pakistan dan Kashmir. Para jawara al-Qaeda mampu menjalin hubungan yang kuat terutama dengan kelompok-kelompok yang sebelumnya berfokus pada lokal. Pertanyaan tentang bagaimana gerakan JI berakhir agaknya penting untuk mengaitkan dengan memahami tentang dinamika terorisme secara umum yang didalamnya terdapat kelompok teroris lainnya. Selama ini, pertanyaan tentang bagaimana penurunan kelompok-kelompok teroris tidak dipelajari dengan cermat, dan penelitian yang ada hampir tidak tersentuh. Dalam konteks JI di Indonesia, aparat keamanan fokus pada penangkapan individu maupun jaringan, baik yang beraksi langsung maupun yang terkait dengan jaringan JI sebagai tujuan utama dalam kampanye melawan terorisme. Padahal, penting pula untuk berkonsentrasi pada akar penyebab terorisme dan mendesak kebijakan yang akan menggeret pada kematian JI. Menarik untuk membandingkan studi Assaf Moghadam (2012), dalam studi kasus penurunan RAF (Red Army Faction), kelompok teroris di Jerman, termasuk mengapa dan berapa banyak anggotanya yang berlepas diri dari terorisme. Dalam penelitian Moghadam, ternyata hanya sebagian kecil anggota RAF yang secara sukarela memutuskan untuk
Militansi Buku

Militansi Buku 19 Oktober 2022 Penulis: Gus Soffa Ihsan Jakarta. Novel Laut Bercerita memaparkan kisah para aktivis mahasiswa radikal di Jogja pada tahun 1990-an. Kita tahu, kala itu peta aktivisme di Indonesia lebih banyak terpusat di Jogja, Jakarta, dan Jawa Tengah. Pada masa itu, para aktivis harus sembunyi-sembunyi untuk membaca karya-karya yang masuk dalam daftar buku-buku terlarang. Membawa buku terlarang seperti karya-karya Pram, para penulis kiri Indonesia sebelum tahun 1960-an, atau para aktivis pro-demokrasi, berarti “menenteng bom” dan bisa dianggap “berbahaya dan pengkhianat bangsa”, kata Leila S. Chudori. “Pada 1989,” kata David T. Hill (2001), “para aktivis di Yogya didakwa di bawah UU Anti-Subversi karena menjual salah satu novel Pramoedya yang dilarang; dan mereka bisa menerima hukuman.” Betapa mengerikannya mempunyai buku terlarang di zaman Orde Baru. Yah, buku punya riwayat dan cerita. Ada terhampar cerita tentang penghancuran terhadap buku. Seperti penyaksian Fernando Baez, pakar perbukuan asal Venezuela saat pasukan Amerika menggempur Baghdad pada Mei 2003. Ketika itu, peradaban dihancurkan lewat pembakaran buku dan perusakan museum-museum. Fakta ini mengulang sejarah saat pasukan Hulaghu Khan masuk Baghdad dan menghancurkan isi perpustakaan, melempar buku dan membakarnya. Inilah kisah para Biblioklas, penghancur buku yang hadir dari sejak baheula hingga dunia moderen ini. Bagi Baez, penghancuran buku sama artinya pemusnahan terhadap manusia. Buku hancur bukan sebagai objek fisik, melainkan sebagai tautan memori, tautan pada kesadaran akan pengalaman masa lampau. Buku menjilid memori manusia. Bagi orang Yunani, memori adalah ibu dari sembilan dewi, namanya Mnemosin. Menyitir John Milton pula, apa yang dihancurkan dalam sebuah buku adalah rasionalitas yang dihadirkannya. Tapi buku bukan hanya ditakuti lalu dihancurleburkan. Buku bisa menjadi ‘makhluk’ yang bisa merasuki seseorang hingga dia kalap dan lalu bertindak merusak. Maka, piara buku demi sebuah heroisme idiologi. Membangun cita-cita meniscaya lewat buku. Karenanya, buku diyakini bisa menjadi instrumen efektif untuk menggelorakan dan memandu para pengikutnya untuk tetap komitmen dan melangkah pada jalan yang diperjuangkan. Kelompok teroris ISIS sangat sadar itu dan lalu berkarya serta menyebarluaskan karya-karyanya. Misalnya pernah terbit sebuah buku ‘panduan’ digital untuk para anggotanya di seluruh dunia. Judulnya ‘Panduan Keselamatan dan Keamanan Bagi Pelaku Tunggal Mujahidin dan Jaringan Kecil’ ini berhasil terungkap dan dilaporkan dalam situs Telegraph. Buku ‘panduan’ yang ditujukan bagi militan ISIS ini ditulis dalam bahasa Inggris. Dikabarkan, panduan ini aslinya berasal dari dokumen yang sebelumnya ditulis dalam bahasa Arab untuk kelompok al-Qaeda, yang akhirnya memisahkan diri dengan ISIS pada tahun 2014. Buku ini pun juga dikabarkan merujuk pada dokumen jihad terkenal yang berjudul ‘Membuat Bom di Dapur Ibu Anda’. Didalamnya memuat berbagai tips terkait apa yang harus dilakukan seorang militan untuk bisa melancarkan sebuah serangan. Mantan napiter, Haris Amir Falah pernah menuturkan bahwa pemicu teror adalah pemikiran sang teroris itu sendiri. “Kita tidak sedang khawatir dengan aksi terorisme, karena sesungguhnya pemikiranlah yang sangat berbahaya”. Dalam bukunya bertajuk Hijrah dari Radikal ke Moderat, ia menuangkan pengalaman pribadinya hingga terjerumus ke dalam lingkaran terorisme. Lagi-lagi, pemikiran yang berbahaya tak lepas dari bacaan dari buku-buku yang provokatif. Dari Buku Ke Aksi Ingat Ganna Pryadharizal Anaedi Putra? Hiruk pikuk pro-kontra pemulangan 600 WNI di Suriah sepertinya melupakan sosok yang satu ini. Kisahnya bisa melabrak akal sehat dan menujah normalitas. Pria kelahiran Jakarta ini pergi ke Suriah memboyong istrinya, Syifa Annisa, dan ketiga anak mereka. Istri keduanya, Sefi Ubudiyah, yang alumnus Universitas Negeri Jakarta juga ikut menyusulnya. Mereka tiba di Raqqa, ibu kota kekhalifahan ISIS, pada Oktober 2015, gelombang terakhir orang Indonesia yang hijrah ke negara konflik dan pusat Daulah Islamiyah itu. Ganna adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir. Ganna mendalami pemikiran Islam di Fakultas Ushuluddin. Ia belajar cabang-cabang ilmu filsafat Islam yang bagi sebagian kelompok dianggap sebagai ‘ilmu sesat’. Diawal-awal pergulatannya, pemikiran Ganna tumbuh dari para pemikir Islam kiri, salah satunya Hassan Hanafi, pemikir terkemuka di Mesir. Sepulang ke Indonesia, Ganna bekerja di koran Sindo, lebih dari setahun dan menjadi reporter untuk rubrik internasional. Di masa sebelum bergabung ISIS inilah Ganna sempat pula menjadi editor dan penerjemah di Pustaka Al-Kautsar, sebuah penerbitan buku Islami di Jakarta. Ia menerbitkan macam-macam buku, dari buku saku panduan untuk jemaah haji hingga buku tentang fikih atau hukum Islam. Setidaknya, ia menerbitkan sebelas buku yang terdata dalam katalog Perpustakaan Nasional. Seiring waktu, siapa sangka, Ganna yang dikalangan sejawat kerjanya dikenal cerdas dan senang bercanda, memilih jalur yang sangat radikal sampai-sampai memutuskan ke Suriah dan bergabung ISIS. Asupan buku-buku radikal telah menyiram sekujur pikiran Ganna. Ganna pun berjejaring dengan Kholid Abu Bakar via Gema Salam, sayap pemuda Jamaah Ansharut Tauhid pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Kholid adalah ustadz untuk keluarga Surabaya yang melakukan bom bunuh diri di tiga gereja. Ia juga punya keluarga di Suriah. Pada 2013, Gema Salam pernah secara terbuka mendukung ISIS di Suriah dan mengendalikan situs shoutussalam.org, yang menerjemahkan media propaganda ISIS untuk pembaca Indonesia. Belakangan, situs itu ditutup pemerintah Indonesia. Tersingkap pula Ganna adalah anak buah Aman Abdurrahman, pencetus Jamaah Ansharut Daulah, yang berbaiat pada ISIS. Kemampuan Ganna dalam literasi, membuatnya diberi posisi penting dalam divisi media ISIS. Ia diberi akses kontrol ke Amaq News Agency, media resmi propaganda ISIS. Peran Ganna dan Amaq bisa kita telusuri dari kasus kerusuhan Rutan Salemba cabang Mako Brimob, 8 Mei 2018. Dua jam setelah kerusuhan itu, Amaq mengklaimnya sebagai aksi pendukung ISIS. ISIS tak sembarang main klaim atas satu serangan ganas demi menjaga profilnya sebagai organisasi yang punya disiplin ketat. Biasanya ISIS melakukan proses verifikasi suatu serangan di bawah kontrol jaringan globalnya selama lebih dari enam jam. Kecepatan proses verifikasi itu karena ada akses informasi dan komunikasi langsung antara para tahanan di Mako Brimob dan divisi media Amaq di Suriah, yang dilakoni Ganna. Cilaka dua belas, Ganna tewas dalam serangan bom Pasukan Koalisi pada Mei 2018. Kabar kematiannya pernah diunggah di Facebook istrinya, Syifa Annisa. “Insya Allah jual beli Aa Ganna dengan Allah sudah laku,” kata Syifa, bernada bangga. Ya, untunglah dia sudah tewas, sehingga tidak merepotkan pemerintah Indonesia yang tengah didera tarik ulur soal pemulangan WNI yang hijrah ke Suriah. Gerakan Buku Klandestin Banyak sudah diungkap bahwa sikap dan tindakan seseorang atau kelompok juga dipengaruhi oleh buku. Seringnya ditemukan buku yang bertemakan jihad dalam peristiwa penggerebekan tersangka pelaku
