✒️ Sofyan Tsauri

Di kitab As-Sirah Nabawiyah Li Ibni Hisyam jilid 3 hal. 183-184 paragraf ketiga terbitan Al-Maktabah Ilmiyyah Beirut tahun 2007 yang pernah saya beli di tahun 2009, ada judul
حديث بر معونة
(Kisah Bir Ma’unah) Lalu di halaman 184 paragraf pertama di sebutkan
كما حدثني أبي إسحاق بن يسار عن المغيرة بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام ، وعبد الله بن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم ، وغيره من أهل العلم ، قالوا : قدم أبو بتراء عامر بن مالك بن جعفر ملاعب الأسنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة
فعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم الإسلام ، ودعاه إليه ، فلم يسلم ولم يبتعد من الإسلام ، وقال : يا محمد ، لو بعثت رجالا من أصحابك إلى أهل نجد
Sebagaimana di kisahkan kepadaku Abu Ishaq bin Yasar dari Mughirah bin Abdurrahman bin Al-Harist ibnu Hisyam dan Abdullah bin Abu bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm dan selainnya dari Ahli ilmu Mereka berkata: Abu Barra Amir ibn Malik ibn Ja’far menyampaikan permintaan dakwah tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah.
Kemudian Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarinya Islam dan mengajaknya masuk Islam, namun beliau tidak masuk Islam dan tidak juga menolak Islam, seraya berkata: Wahai Muhammad, jika kamu mengutus laki-laki dari sahabatmu kepada penduduk Najd

Pada waktu yang telah ditentukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para shahabat ini bertolak menuju Najd meninggalkan Madinah. Ketika tiba di Bi`r Ma’unah sebuah daerah yg terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan wilayah Bani Sulaim, para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengutus Haram bin Milhan Radhiyallahu anhu saudara Ummu Sulaim bintu Milhan untuk mengantarkan surat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Amir bin Thufail, sepupu Abu Bara’ ‘Amir bin Malik. Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu bahkan ia memberi isyarat kepada seseorang pengikutnya untuk menikam Haram Radhiyallahu anhu dengan tombak dari belakang.
Kemudian ‘Amir bin Thufail memprovokasi orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Bani ‘Amir menolak ajakan ‘Amir bin Thufail karena para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam jaminan Abu Barra`. Tekadnya untuk memerangi rombongan ini tidak luntur disebabkan kegagalannya memprovokasi Bani ‘Amir. Dia arahkan hasutannya ke Bani Sulaim. Ajakan ini disambut oleh kabilah ‘Ushaiyyah, Ri’l dan Dzakwan. Mereka mulai bergerak dan mengepung para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pertempuran sengit tak terhindarkan. Satu persatu shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam gugur sebagai syahid, sampai akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali Ka’b bib Zaid bin Najjar.
Pembantaian yang dialami oleh para shahabat ini telah menorehkan luka teramat dalam di hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu menceritakan
فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِنَ حُزْنًا قَطُّ أَشَدَّ مِنْهُ
Aku belum pernah melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berduka dibandingkan duka akibat peristiwa tersebut. (HR. Bukhâri)
Pasca dua peristiwa memilukan yang menimpa para shahabat pilihan itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah selama satu bulan atau lebih. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keburukan buat orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bersambung Bagian 4)
