Kontroversi Lokasi Najd Bagian 1

✒️Sofyan Tsauri Al- Bani dalam situs Fatwanya (al-albany.com) di tanya tentang hadist Hunaka/Ha huna Az-Zalzalatu (goncangan) yaitu fitnah di Najd dalam hadist Bukhari Muslim dan apakah Najd itu Iraq ? Lalu di jawab oleh Al-Bani dengan kalimat كان ممكن يصير في إشكال ، لكن هو أضاف نجد إليه فقال : ” وفي نجدنا ” ، أي : هو كان عراقيًا ، ولذلك ما أطلق نجد لأنه في نجود كما قلنا آنفًا ، فمن هنا قال ابن حجر العسقلاني ، وقال الخطابي وهما من علماء اللغة : بأن المقصود هنا بنجد هي : العراق Di jawab oleh Al-Bani: “bahwa pertanyaan ini bisa menjadi masalah, Namun beliau (Bukhari) menambahkan Najd ke dalamnya dan berkata: “Bagaimana di Najd Kami Ya Rasulullah.” lalu kata Al-Bani maksudnya adalah Iraq kami (HR. Tabrani) Oleh karena itu, yang dikatakan “Najd” karena berada di “Najud”, seperti yang kami katakan di atas tadi, (penerjemah,_lalu Al-Bani mengutip) Dari sini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, dan Al-Khattabi yang sama-sama ahli bahasa mengatakan: Yang dimaksud dengan Najd di sini adalah: Irak وليس نجد المعروفة اليوم ، لم يقع هناك إلا ظهور مسيلمة الكذاب وأمثاله ، وقضي على فتنته بمحاربة أبي بكر الصديق وقضاءه على هؤلاء الذين ادعوا النبوة في عهد الخليفة الأول ، فمن هنا وهنا وهنا استقام تفسير نجد في الحديث بأنها العراق. انتهى Lalu Al-Bani mengatakan kembali “Dan bukanlah Najd yang di kenal sekarang, bukan terletak disana kecuali munculnya Musailamah Al-Kadzab dan semisalnya dan termasuk permasalahan yang fitnahnya di perangi Abu Bakar Sidiq Dan diperanginya terhadap orang-orang yang mengaku kenabian pada era khalifah pertama، Dari sini, ya sini dan sini, tafsir yang betul tentang Najd dalam hadis adalah bahwa itu adalah Irak. Selesai Al-Bani dalam memahami hadits ini memakai metode Tafsir Bil Matsur, yaitu memahami teks hadits dengan riwayat hadits lain untuk menguatkannya, tetapi saya menganggap ini Bab Ushul Fiqh bab Ta’arudh Al-Adillah yaitu kontradiksi antara dalil2/ atau Nash/ Atsar. Hadist Fie Najdina itu di riwayatkan oleh Bukhori Muslim Tirmidzi Ibnu Majah dan Abu Dawud, Ahmad dll, dan hanya riwayat Thabrani dalam Mu’jamul Kabir no 13.422 yang. Mengatakan Fitnah itu di Iraq, para ahli Tarjih tentu akan memenangkan hadist Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad dll bahwa Fitnah itu memang di Najd (Riyadh hari ini) dan bukan di Iraq di HR Tabrani di dalam Mu’jamul Kabir. Waallahu alam’ (Bersambung ke bagian 2)
Weather Warfare atau Fitnah Cuaca?

✍🏼 Sofyan Tsauri Mengurai Narasi Dane Wigington tentang Iran, Realitas Rekayasa Cuaca, dan Perspektif Akhir Zaman Narasi “Weather Warfare” atau perang cuaca terhadap Iran kembali menjadi topik hangat di media sosial sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Dipicu oleh wawancara Dane Wigington di acara Tucker Carlson pada November 2025 dan eskalasi konflik Iran dengan Israel serta sekutu Barat pada Februari–April 2026, klaim ini menyebar luas. Banyak yang percaya bahwa kekeringan panjang di Iran adalah hasil rekayasa cuaca oleh AS dan sekutunya sebagai bentuk perang hibrida, tanpa perlu invasi militer langsung. Artikel ini mengupas narasi tersebut secara seimbang: latar belakang klaim, fakta ilmiah tentang teknologi modifikasi cuaca yang memang ada, penyebab riil kekeringan, serta perspektif teologi Islam yang relevan dengan fenomena ini. Siapa Dane Wigington dan Narasi “Weather Warfare” terhadap Iran Dane Wigington adalah pendiri GeoEngineering Watch, sebuah situs yang fokus pada tuduhan geoengineering rahasia pemerintah, khususnya “chemtrails” — jalur pesawat yang disebut menyemprotkan bahan kimia untuk mengendalikan cuaca, bukan sekadar kondensasi. Ia bukan mantan kontraktor CIA seperti yang sering disebut di postingan viral, melainkan aktivis yang telah lama mempromosikan teori serupa terkait kekeringan California dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya. Dalam wawancara November 2025 dengan Tucker Carlson, Wigington membahas pengakuan pemerintah tentang geoengineering sekaligus menuduh AS/NATO menggunakan aerosol spraying (penyemprotan logam berat) dan teknologi seperti HAARP untuk memanipulasi pola tekanan udara, mengalihkan badai hujan, serta menciptakan kekeringan kronis di Iran. Tujuannya konon melemahkan ketahanan pangan dan air, memicu ketidakstabilan internal tanpa perang terbuka. Ia merujuk pernyataan lama Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (2011–2012) yang menuduh Barat “mencuri awan” menggunakan teknologi elektromagnetik. Narasi ini muncul kembali setelah Iran melancarkan serangan balasan yang menghancurkan fasilitas radar militer AS, seperti AN/FPS-132 di Qatar (senilai sekitar $1,1 miliar), serta sistem THAAD dan radar lain di UAE dan Jordan. Segera setelah itu, beberapa wilayah Iran mengalami hujan deras dan salju setelah periode kekeringan panjang. Pendukung teori konspirasi langsung mengaitkannya: penghancuran radar “weather weapon” memutus jaringan manipulasi cuaca, sehingga hujan “kembali normal”. Video dan postingan di Instagram, X, dan Facebook — termasuk dari akun pro-Iran — menyebarkan narasi ini dengan cepat. Teknologi Rekayasa Cuaca yang Nyata dan Sejarah Penggunaannya Teknologi modifikasi cuaca memang benar-benar ada. Teknik utamanya adalah cloud seeding (penyemaian awan), yaitu menaburkan zat kimia seperti silver iodide (perak iodida) atau garam ke dalam awan yang sudah potensial hujan untuk mempercepat proses kondensasi sehingga hujan turun lebih cepat atau lebih banyak. Sejarah dan Penerapan Global: Di Indonesia: Batasan Teknologi yang Nyata: HAARP, Radar Militer, dan Realitas Klaim Konspirasi HAARP hanyalah program riset ionosfer di Universitas Alaska yang tidak mampu mengendalikan cuaca troposfer. Radar militer seperti AN/FPS-132 berfungsi untuk deteksi rudal jarak jauh, bukan manipulasi cuaca. Klaim bahwa penghancurannya menyebabkan hujan deras adalah korelasi yang dianggap kausalitas, sementara hujan tersebut sudah diprediksi meteorolog sejak September 2025. Penyebab Kekeringan di Timur Tengah dan Hujan Mendadak 2026 Kekeringan parah di Iran dan sekitarnya selama bertahun-tahun (khususnya lima tahun terakhir hingga 2025) lebih banyak disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan antropogenik. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama, dengan suhu di kawasan Timur Tengah naik hampir dua kali lipat rata-rata global. Hal ini menyebabkan pola curah hujan yang semakin tidak menentu, evaporasi yang lebih tinggi, dan kekeringan yang lebih intens serta berkepanjangan. Studi World Weather Attribution menunjukkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko kekeringan lebih dari sepuluh kali lipat, mengubah kondisi normal menjadi kekeringan ekstrem hingga exceptional. Faktor lain yang memperburuk adalah pengelolaan air yang buruk selama puluhan tahun, termasuk pembangunan ratusan bendungan yang meningkatkan evaporasi, pengalihan air untuk industri dan pertanian, serta pengeboran sumur dalam secara masif yang menyebabkan penurunan muka air tanah dan subsidence (penurunan tanah) di berbagai kota seperti Isfahan. Pertanian menjadi penyumbang terbesar, menghabiskan sekitar 90% pasokan air untuk tanaman yang boros air seperti gandum, padi, dan tebu, meski di wilayah arid. Kebijakan swasembada pangan yang ambisius mempercepat eksploitasi sumber daya air tanpa mempertimbangkan keterbatasan alam. Overpopulasi dan pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan permintaan air domestik dan industri, sementara ekspansi pertanian tidak berkelanjutan serta pengabaian sistem tradisional seperti qanat (saluran air bawah tanah) semakin memperparah krisis. Di Irak, aliran Sungai Tigris dan Euphrates juga berkurang akibat bendungan di hulu (Turki dan Iran) serta faktor serupa. Hujan deras awal 2026 yang tiba-tiba muncul sudah diprediksi oleh para meteorolog sejak September 2025 berdasarkan pola musiman dan melemahnya tekanan tinggi di Atlantik Utara, jauh sebelum konflik memuncak. Perspektif Teologi Islam: Fitnah Dajjal yang Mengendalikan Langit dan Bumi Riwayat hadis tentang Dajjal memberikan gambaran yang sangat relevan dengan fenomena ini. Dalam hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan salah satu fitnah terbesar Dajjal: فَيَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ أَنْ تُمْطِرَ فَتُمْطِرَ وَيَأْمُرُ الأَرْضَ أَنْ تُنْبِتَ فَتُنْبِتَ “Dia akan mendatangi beberapa kaum dan menyeru mereka, dan mereka akan meresponnya dan beriman kepadanya. Kemudian Dia akan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan turunlah hujan, dan Dia akan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan bumi akan melakukan hal itu.” Dan sebaliknya: ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ مَا بِأَيْدِيهِمْ شَىْءٌ “Kemudian dia akan mendatangi beberapa orang (yang lain) dan memanggil mereka, dan mereka akan menolaknya, maka dia akan berpaling dari mereka dan mereka akan menderita kekeringan dan tidak mempunyai apa-apa.” (HR. Ibnu Majah) Ulama dan pemerhati akhir zaman melihat kemajuan teknologi modifikasi cuaca sebagai sarana potensial yang bisa disalahgunakan dalam fitnah ini. Teknologi yang semula diciptakan untuk kebaikan bisa menjadi alat menyesatkan jika jatuh ke tangan tiran atau sistem yang menentang kebenaran. Pelajaran dan Sikap yang Harus Diambil Umat Fenomena cuaca ekstrem, tuduhan pencurian hujan, dan kemajuan teknologi rekayasa cuaca seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Beberapa poin penting: Di era di mana manusia semakin mampu “bermain” dengan cuaca melalui berbagai teknologi canggih, kita semakin dituntut untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta cuaca itu sendiri. Kemajuan sains dan rekayasa alam tidak boleh menjadikan manusia lupa diri dan sombong, melainkan harus semakin mengingatkan kita akan kebesaran dan kekuasaan mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur segala sesuatu dengan qadar-Nya. Hanya kepada-Nya kita bertawakal, bukan
