Pengkhianatan Penduduk Najd Kepada Nabi (Bagian 3, Lanjutan Kontroversi Lokasi Najd)

✒️ Sofyan Tsauri Di kitab As-Sirah Nabawiyah Li Ibni Hisyam jilid 3 hal. 183-184 paragraf ketiga terbitan Al-Maktabah Ilmiyyah Beirut tahun 2007 yang pernah saya beli di tahun 2009, ada judul حديث بر معونة (Kisah Bir Ma’unah) Lalu di halaman 184 paragraf pertama di sebutkan كما حدثني أبي إسحاق بن يسار عن المغيرة بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام ، وعبد الله بن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم ، وغيره من أهل العلم ، قالوا : قدم أبو بتراء عامر بن مالك بن جعفر ملاعب الأسنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة فعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم الإسلام ، ودعاه إليه ، فلم يسلم ولم يبتعد من الإسلام ، وقال : يا محمد ، لو بعثت رجالا من أصحابك إلى أهل نجد Sebagaimana di kisahkan kepadaku Abu Ishaq bin Yasar dari Mughirah bin Abdurrahman bin Al-Harist ibnu Hisyam dan Abdullah bin Abu bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm dan selainnya dari Ahli ilmu Mereka berkata: Abu Barra Amir ibn Malik ibn Ja’far menyampaikan permintaan dakwah tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Kemudian Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarinya Islam dan mengajaknya masuk Islam, namun beliau tidak masuk Islam dan tidak juga menolak Islam, seraya berkata: Wahai Muhammad, jika kamu mengutus laki-laki dari sahabatmu kepada penduduk Najd Pada waktu yang telah ditentukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para shahabat ini bertolak menuju Najd meninggalkan Madinah. Ketika tiba di Bi`r Ma’unah sebuah daerah yg terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan wilayah Bani Sulaim, para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengutus Haram bin Milhan Radhiyallahu anhu saudara Ummu Sulaim bintu Milhan untuk mengantarkan surat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Amir bin Thufail, sepupu Abu Bara’ ‘Amir bin Malik. Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu bahkan ia memberi isyarat kepada seseorang pengikutnya untuk menikam Haram Radhiyallahu anhu dengan tombak dari belakang. Kemudian ‘Amir bin Thufail memprovokasi orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Bani ‘Amir menolak ajakan ‘Amir bin Thufail karena para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam jaminan Abu Barra`. Tekadnya untuk memerangi rombongan ini tidak luntur disebabkan kegagalannya memprovokasi Bani ‘Amir. Dia arahkan hasutannya ke Bani Sulaim. Ajakan ini disambut oleh kabilah ‘Ushaiyyah, Ri’l dan Dzakwan. Mereka mulai bergerak dan mengepung para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pertempuran sengit tak terhindarkan. Satu persatu shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam gugur sebagai syahid, sampai akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali Ka’b bib Zaid bin Najjar. Pembantaian yang dialami oleh para shahabat ini telah menorehkan luka teramat dalam di hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu menceritakan فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِنَ حُزْنًا قَطُّ أَشَدَّ مِنْهُ Aku belum pernah melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berduka dibandingkan duka akibat peristiwa tersebut. (HR. Bukhâri) Pasca dua peristiwa memilukan yang menimpa para shahabat pilihan itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah selama satu bulan atau lebih. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keburukan buat orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap para shahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bersambung Bagian 4)
Menjemput Senjakala Di Ranum Usia

✒️ Oleh Soffa Ihsan Sebuah novel adalah semburat kata-kata dari gambaran hidup di alam nyata. Kira-kira begitu simpulan saya ketika membaca novel “Bom Sang Teroris”, karya filsuf dan sastrawan Perancis, Albert Camus. Camus kali ini hendak mendedah kembali pada titimangsa Februari 1905, peristiwa yang terjadi di Rusia. Ada sekelompok teroris dari partai sosialis revolusioner merancang percobaan pembunuhan atas Hertog Agung Serge Alexandrovich, paman Tsar Rusia. Tak cukup pada pengisahan jalannya teror, sejatinya Camus hendak membelalakkan sisi lain dari teater kekejian teror. Dengan berbagai konflik yang mudah dicerna, pembaca disuguhi alur konflik yang mengantar sang tokoh ke tiang gantungan. Di novel ini, kita disuguhi gumul-gumul hebat diantara anggota teroris ketika berhadapan dengan calon korbannya. Ya, sebuah kisah tentang pergulatan batin para teroris yang begitu mendalam pada tokoh-tokohnya. Yanek Kaliayev, pemuda itu, memang tak mampu untuk melepaskan hatinya. Ia disiapkan untuk melemparkan bom. Tapi ketika kereta sang Hertog datang, ada yang tak disangka-sangkanya. Di kereta tamu agung itu ada dua anak kecil, kemenakan sang Hertog. Wajah mereka tampak sedih, memandang lurus ke depan. Melihat itu, Yanek batal menjalankan perintah. “Tanganku jadi lemas. Kakiku goyah,” katanya kemudian. Bom tak jadi dilemparkan, kereta itu berlalu, selamat. Kita tak bisa menujahkan kisah novel ini pada tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok teroris belakangan ini, wabil khusus yang masih belia. Bahwa teror yang dilakukan oleh mereka yang dituturkan oleh Albert Camus dalam novel ini mempunyai sasaran yang terpilih, biasanya kalangan atas dan atau pemimpin politik atau kepala negara. Sementara sekarang ini polisi bahkan warga sipil pun telah dimasukkan dalam target penyerangan oleh kelompok teroris. Di novel ini, Camus ingin menunjukkan bahwa tidak ada tindakan yang tanpa batas. Tindakan baru dikatakan adil dan benar kalau ia mengakui batasan-batasan, kalau melewatinya harus menerima kematian. Dalam kisah ini, Camus juga memunculkan sebuah ironi. Dengan menarik, ia tunjukkan munculnya kontradiksi-kontradiksi dalam diri para teroris, justru ketika mereka bercita-cita hendak menghancurkan segala kontradiksi yang ada di masyarakat. Kini kita lihat, lakon teroris, meruapkan hubungan yang merisaukan, atau mengerikan, antara pembunuhan dan keadilan, antara kebenaran dan kematian, antara politik dan ketakberhinggaan. Apa ini selaras yang dikobarkan oleh salah satu tokoh revolusi Perancis, Maximilian Robespierre, yang mengesahkan penggunaan teror untuk menghadapi musuh-musuh politik. Kata Robespierre, “Teror is nothing but justice, prompt, severe and inflexible.” Dilihat di hari ini, teroris tak terasa gelap, bahkan terlampau jernih. Camus seperti tak mengenal kemungkinan bahwa keadilan bisa berarti dendam dan dendam bisa berarti kebencian. Bagi para algojo yang mengumbar peluru, menggorok pakai pisau deretan korban, melempar diri bersama bom, lalu disiarkan selaksa parade teror yang amat giris. Tak dibutuhkan sentuhan yang mengimbau apa pun, kecuali Tuhan yang diubah jadi galak. Pembunuhan, tulis Camus, adalah “perkecualian yang tanpa harapan” Tapak Belia Kalap Di negeri ini,–mari kita longok sejenak—berkali-kali terjadi peristiwa teror yang ajibnya dilakukan para belia. Barusan berselang, 2022 ini seorang perempuan bernama Siti Elina diamankan petugas lantaran nekat menerobos istana negara. Selidik punya selidik, perempuan muda ini terpapar paham ekstrem. Sebelumnya, ada mahasiswi dari sebuah kampus di Jakarta yaitu Zakiah Aini dengan modal airsoftgun nekad masuk Mabes Polri dan menembakkan senjatanya hingga dia harus tewas ditembak di tempat. Kita kembali melongok ke belakang. Kita awali dari aksi penembakan terhadap polisi solo yang lalu memantik duga dilakukan teroris generasi baru. Remaja belasan tahun yang mencoba berafiliasi dengan jaringan teroris lama. Motifnya, balas dendam kepada kepolisian. Mereka kecewa karena banyak tokoh mereka yang ditangkap polisi. Sungguh, remaja belia yang ‘mati rasa’ memberondong tembakan terhadap polisi. Tak seperti Kaliyef dan juga Dora dalam novel Camus itu yang masih menyisakan gemetar hati dan cinta. Dora mengucapkan sesuatu dengan sentuhan itu, menandai kekerasan hidupnya juga menyembunyikan sesuatu yang merindukan yang universal. Sejenak ia ingin matahari bersinar, leher tak terus-menerus bersitegang, dan keangkuhan dilepas. Sejenak ia menduga itu “cinta”, katanya. Namun Farhan Mujahid, 19 tahun dan Mukhsin Sanny Permadi, 20 tahun, kedua belia eksekutor tanpa sesal dan penuh yakin melakukan amaliyah yang seolah perintahnya datang dari ‘langit’. Sebuah ‘kata magis’ yang selalu dihantamkan adalah ‘thoghut’. Kata yang dipetik dari dalil naqli, namun dengan tafsir yang sangat cekak. Sepintas merenda ‘sanad’ dari sosok belia misterius ini. Jaringan Farhan terkuak. Ada Bayu Setyono, remaja berusia 16 tahun adalah anggota kelompok FarhanMukhsin. Peran Bayu bahkan diduga lebih signifikan dari Mukhsin karena beberapa kali langsung terjun ke lapangan sebagai eksekutor dalam penyerangan ke pos polisi. Selain sebagai salah satu eksekutor, Bayu juga berperan menyediakan pelat nomor palsu untuk sepeda motor yang digunakan dalam penyerangan. Keterkaitan Farhan cs dengan kelompok-kelompok teroris yang ditangkap sebelumnya, seperti di Cirebon dan Aceh, hubungan mereka bersifat ‘’emosional’’. Farhan cs juga tidak bisa dikatakan sebagai jaringan baru karena memiliki hubungan secara emosional dengan para tokoh lama. Farhan bahkan bisa dibilang dibesarkan di lingkungan teroris. Farhan adalah anak kandung Suhartono, pria yang ikut merencanakan percobaan pembunuhan terhadap politikus Partai Kebangkitan Bangsa, Matori Abdul Djalil, pada 1999. Suhartono tewas dihakimi massa. Kemudian ibu Farhan menikah lagi dengan seorang tokoh senior dalam dunia terorisme, yakni Abu Umar alias Indra Kusuma. Abu Umar adalah terdakwa penyelundupan senjata api dari Filipina Selatan ke Indonesia. Abu Umar ditangkap pada 2011, dengan tuduhan memasok senjata kepada kelompok yang menyerang pos Brimob di Ambon pada 2004. Dengan lingkungan seperti itu, wajar bila Farhan dikatakan memiliki hubungan emosional dengan para tokoh lama terorisme. Status Farhan sebagai anak tiri Abu Umar si pemasok senjata dari Filipina Selatan itulah yang membuat kelompok Farhan cs dikatakan memiliki jaringan yang ‘mutawatir’ dengan para pemberontak Moro di Filipina. Meski demikian, juga tidak bisa dikatakan aksi teror Farhan cs adalah instruksi dari tokoh-tokoh lain yang lebih senior. Sebagai anak muda, Farhan cs tampaknya sangat ‘’rentan’ dipengaruhi pandangan para tokoh senior terorisme yang mereka kenal. Mereka ini masih ‘’ingusan’ yang berpikiran pendek dan emosional. Farhan, Mukhsin dan Bayu bukan satu-satu kelompok remaja yang terjerumus pada aksi terorisme. Sederet ‘belia jihadis’ bisa kita papar disini. Salah satu poin dalam laporan International Crisis Group (2011) menyebutkan, betapa di Indonesia kian banyak teroris berusia muda. Yang tergolong ‘legendaris’ barangkali adalah Dani Dwi Permana, 19 tahun dan Nana Supriyatna, 18 tahun yang melakukan aksi bom bunuh diri di Hotel JW Mariott pada
Kontroversi Lokasi Najd Bagian 2

✒️ Sofyan Tsauri Bagaimana jika ada Atsar saling ta’arudh atau Tanaqudh antara satu dengan lainnya, biasanya ulama akan mengkompromikan (Jam’u) lalu jika tidak dapat di kompromikan maka memakai Thoriqotul Nasakh/ metode Nasakh (mencari kronoogisnya) hadist belakangan otomatis menasakh (revisi) hadist sebelumnya, lalu yang ketiga thoriqotut Tarjih yaitu dengan jalan mentarjih (mengunggulkan) dari dalil tsb. Ibarotmya di Syarah Waraqot milik Jalaludin Mahalli di halaman 143 begini إِذَا تَعَارَضَ نُطْقَانِ فَلَا يَخْلُو: إِمَّا أَنْ يَكُونَا عَامَيْنِ، أَوْ خَاصَّيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا عَامَاً والآخَرُ خاصاً، أَوْ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامَّا مِنْ وَجْهِ وَخَاصَّاً مِنْ وَجْهِ. فَإِنْ كَانَا عَامَيْنِ وَأَمْكَنَ الجَمْعُ بَيْنَهُمَا جُمِعَ، وَإِنْ لَمْ يُمْكِنِ الجَمْعُ بَيْنَهُمَا يُتَوَقَّفُ فِيهِمَا إِنْ لَمْ يُعْلَمِ التَّارِيخُ فَإِنْ عُلِمَ التَّارِيخُ فَيُنْسَخُ المُتَقَدِّمُ بِالمُتَأَخْرِ، وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَا خَاصَّيْنِ، وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا عَامًاً والآخَرُ خَاصَّاً فَيُخَصُ العَامُ بِالخَاصِ، وَإِنْ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامَاً مِنْ وَجْهِ وَخَاصَاً مِنْ وَجْهِ فَيُخَصُ عُمُوْمُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِخُصُوصِ الْآخَرِ. عني الأصوليون بمباحث التعارض والترجيح بعد مباحث الأدلة الشرعية – الكتاب والسنة والإجماع والقياس – وذلك لأن هذه الأدلة قد يقع بينها تعارض، ولا يمكن إثبات الحكم إلا بإزالة هذا التعارض. انتهى Di kitab Jamul Jawani Ibarotnya begini وَأَنَّ الْعَمَلَ بِالْمُتَعَارِضَيْنِ وَلَوْ مِنْ وَجْةٍ أَوْلَى مِنْ الْغَاءِ أَحَدِهِمَا وَلَوْ سُنَّةٌ قَابَلَهَا كِتاب وَلَا يُقَدَّمُ عَلَى السُّنَّة وَلَا السُّنَّةُ – عَلَيْهِ خِلافا لزاعميهما Dan bahwa mengamalkan dua dalil yang saling berbenturan meski dari sisi yang berbeda, lebih utama daripada mengabaikan salah satunya, meskipun dalil as-sunnah yang berhadapan dengan dalil Al- Qur’an. Al-Qur’an tidak didahulukan atas as-sunnah, As- sunnah juga tidak didahulukan atas Al-Qur’an, berbeda dengan pendapat para ulama’ yang menyangka demikian. Kesimpulannya para ulama tentu akan memenangkan hadist Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud dan Ahmad yang terkumpul dari kitab Shahih dan Sunan yang menyebut Fitnah secara Sharih ada di Najd dari pada kitab Mu’jamul Kabir dari Imam At-Tabrani yang menyebutkan bahwa Fifnah ada di Iraq. (Bersambung) Tulisan saya terakhir ini akan sebutkan Fitnah apa saja yang ada di Najd…
Audiensi Yayasan FKAAI ke Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Pusat

Jakarta, 13 Mei 2026 – Pada hari Selasa, 12 Mei 2026 pukul 10.00 s.d. 11.30 WIB, perwakilan Yayasan FKAAI melaksanakan kegiatan audiensi ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Pusat. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan semangat kolaborasi dalam pembinaan masyarakat. Perwakilan Yayasan FKAAI yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain: Ustadz Nasir Abas (Pembina Yayasan FKAAI), Giri Pratomo dan Abdul Rohim Sidik. Kehadiran pengurus Yayasan FKAAI disambut langsung oleh Kepala Bapas Kelas I Jakarta Pusat, Bapak Bambang Maryanto, yang didampingi Kepala Seksi Bimbingan Klien Dewasa (Kasi BKD) Ibu Nuraini, S.E., M.M., serta Bapak Latif dari BKD. Dalam kesempatan tersebut, Yayasan FKAAI memaparkan profil yayasan yang berlandaskan prinsip Akhlakulkarimah (Perilaku yang Baik) dalam membina anggota yayasan yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk eks kelompok radikalisme dan mantan narapidana terorisme. Yayasan FKAAI juga menyampaikan bahwa salah satu metode pembinaan yang dilakukan adalah dengan melibatkan anggota dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Kepala Bapas Kelas I Jakarta Pusat turut memperlihatkan sejumlah kegiatan pembinaan yang sedang berjalan di lingkungan Bapas, di antaranya kegiatan marawis yang diikuti para klien Bapas serta program penanaman sayur hidroponik sebagai bagian dari pembinaan kemandirian klien. Dalam audiensi tersebut, Kepala Bapas menyambut baik tawaran kerja sama dari Yayasan FKAAI dan menyatakan kesiapan pihak Bapas untuk menyediakan fasilitas dalam berbagai kegiatan pembinaan. Ke depan, kegiatan penyuluhan Bapas di lingkungan masyarakat seperti di tingkat RW/RT maupun sekolah direncanakan akan melibatkan Yayasan FKAAI dalam pelaksanaannya. Selain itu, program Orientasi Klien Baru (OKB) bagi klien yang baru bebas dari masa pidana juga direncanakan akan melibatkan Yayasan FKAAI sebagai mitra dalam pemberian materi penyuluhan dan pendampingan. Di bidang pembinaan kemandirian, Bapas Kelas I Jakarta Pusat juga membuka peluang pelaksanaan pelatihan keterampilan seperti pelatihan AC, barista, dan bekam bagi para klien Bapas. Yayasan FKAAI menyatakan kesiapan untuk menugaskan narasumber dan pendamping dalam berbagai kegiatan penyuluhan maupun pelatihan tersebut. Sebagai tindak lanjut, pihak Bapas akan menyusun surat kerja sama dan akan berkoordinasi lebih lanjut dengan perwakilan Yayasan FKAAI. Komunikasi awal juga telah terjalin dengan tersimpannya nomor kontak petugas Bapas oleh saudara Sidik. Melalui audiensi ini diharapkan terjalin sinergi yang positif antara Yayasan FKAAI dan Bapas Kelas I Jakarta Pusat dalam mewujudkan pembinaan yang humanis, produktif, dan berlandaskan nilai-nilai Akhlakulkarimah demi mendukung reintegrasi sosial para klien pemasyarakatan.
Bapas Jakarta Barat Bersama Yayasan FKAAI Kembali Menggelar Pembinaan Klien Pemasyarakatan

Jakarta, 13 Mei 2026 – Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Barat bersama Yayasan FKAAI melaksanakan kegiatan pembinaan bagi klien pemasyarakatan pada hari Selasa, 12 Mei 2026, mulai pukul 09.00 WIB sampai selesai, bertempat di Kantor Bapas Jakarta Barat. Kegiatan pembinaan ini didampingi oleh petugas Bapas, Ibu Wati, serta menghadirkan pemateri dari Yayasan FKAAI, Fuad Junaidi, yang menyampaikan tausiyah bertema “Memperbaiki Kualitas Hidup.” Dalam tausiyahnya, Ustadz Fuad Junaidi menyampaikan bahwa seorang beriman harus memiliki prinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena apabila seseorang hari ini sama dengan kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, terlebih jika lebih buruk maka termasuk golongan yang celaka. Beliau menekankan bahwa ukuran perubahan bukan harus lebih baik dari orang lain, melainkan menjadi pribadi yang lebih baik dibanding diri sendiri di masa lalu. Adapun langkah-langkah hidup agar lebih berkualitas dan mengalami perubahan yang disampaikan dalam tausiyah tersebut antara lain: Dalam penutup tausiyahnya, Ustadz Fuad Junaidi mengajak seluruh peserta agar tidak malu untuk berubah dan tidak terlalu mempedulikan komentar negatif orang lain. Beliau memberikan analogi burung elang yang tetap terbang tinggi meski ada gagak yang hinggap di punggungnya. “Belajarlah dari burung elang. Ketika ia terbang tinggi dan ada gagak di punggungnya, elang tidak melawan atau menghiraukannya. Ia hanya terus terbang semakin tinggi hingga gagak itu jatuh dengan sendirinya.” Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan penguatan mental spiritual bagi para klien pemasyarakatan agar mampu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas hidup, serta kembali berperan positif di tengah masyarakat dengan nilai-nilai akhlakulkarimah.
Weather Warfare atau Fitnah Cuaca?

✍🏼 Sofyan Tsauri Mengurai Narasi Dane Wigington tentang Iran, Realitas Rekayasa Cuaca, dan Perspektif Akhir Zaman Narasi “Weather Warfare” atau perang cuaca terhadap Iran kembali menjadi topik hangat di media sosial sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Dipicu oleh wawancara Dane Wigington di acara Tucker Carlson pada November 2025 dan eskalasi konflik Iran dengan Israel serta sekutu Barat pada Februari–April 2026, klaim ini menyebar luas. Banyak yang percaya bahwa kekeringan panjang di Iran adalah hasil rekayasa cuaca oleh AS dan sekutunya sebagai bentuk perang hibrida, tanpa perlu invasi militer langsung. Artikel ini mengupas narasi tersebut secara seimbang: latar belakang klaim, fakta ilmiah tentang teknologi modifikasi cuaca yang memang ada, penyebab riil kekeringan, serta perspektif teologi Islam yang relevan dengan fenomena ini. Siapa Dane Wigington dan Narasi “Weather Warfare” terhadap Iran Dane Wigington adalah pendiri GeoEngineering Watch, sebuah situs yang fokus pada tuduhan geoengineering rahasia pemerintah, khususnya “chemtrails” — jalur pesawat yang disebut menyemprotkan bahan kimia untuk mengendalikan cuaca, bukan sekadar kondensasi. Ia bukan mantan kontraktor CIA seperti yang sering disebut di postingan viral, melainkan aktivis yang telah lama mempromosikan teori serupa terkait kekeringan California dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya. Dalam wawancara November 2025 dengan Tucker Carlson, Wigington membahas pengakuan pemerintah tentang geoengineering sekaligus menuduh AS/NATO menggunakan aerosol spraying (penyemprotan logam berat) dan teknologi seperti HAARP untuk memanipulasi pola tekanan udara, mengalihkan badai hujan, serta menciptakan kekeringan kronis di Iran. Tujuannya konon melemahkan ketahanan pangan dan air, memicu ketidakstabilan internal tanpa perang terbuka. Ia merujuk pernyataan lama Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (2011–2012) yang menuduh Barat “mencuri awan” menggunakan teknologi elektromagnetik. Narasi ini muncul kembali setelah Iran melancarkan serangan balasan yang menghancurkan fasilitas radar militer AS, seperti AN/FPS-132 di Qatar (senilai sekitar $1,1 miliar), serta sistem THAAD dan radar lain di UAE dan Jordan. Segera setelah itu, beberapa wilayah Iran mengalami hujan deras dan salju setelah periode kekeringan panjang. Pendukung teori konspirasi langsung mengaitkannya: penghancuran radar “weather weapon” memutus jaringan manipulasi cuaca, sehingga hujan “kembali normal”. Video dan postingan di Instagram, X, dan Facebook — termasuk dari akun pro-Iran — menyebarkan narasi ini dengan cepat. Teknologi Rekayasa Cuaca yang Nyata dan Sejarah Penggunaannya Teknologi modifikasi cuaca memang benar-benar ada. Teknik utamanya adalah cloud seeding (penyemaian awan), yaitu menaburkan zat kimia seperti silver iodide (perak iodida) atau garam ke dalam awan yang sudah potensial hujan untuk mempercepat proses kondensasi sehingga hujan turun lebih cepat atau lebih banyak. Sejarah dan Penerapan Global: Di Indonesia: Batasan Teknologi yang Nyata: HAARP, Radar Militer, dan Realitas Klaim Konspirasi HAARP hanyalah program riset ionosfer di Universitas Alaska yang tidak mampu mengendalikan cuaca troposfer. Radar militer seperti AN/FPS-132 berfungsi untuk deteksi rudal jarak jauh, bukan manipulasi cuaca. Klaim bahwa penghancurannya menyebabkan hujan deras adalah korelasi yang dianggap kausalitas, sementara hujan tersebut sudah diprediksi meteorolog sejak September 2025. Penyebab Kekeringan di Timur Tengah dan Hujan Mendadak 2026 Kekeringan parah di Iran dan sekitarnya selama bertahun-tahun (khususnya lima tahun terakhir hingga 2025) lebih banyak disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan antropogenik. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama, dengan suhu di kawasan Timur Tengah naik hampir dua kali lipat rata-rata global. Hal ini menyebabkan pola curah hujan yang semakin tidak menentu, evaporasi yang lebih tinggi, dan kekeringan yang lebih intens serta berkepanjangan. Studi World Weather Attribution menunjukkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko kekeringan lebih dari sepuluh kali lipat, mengubah kondisi normal menjadi kekeringan ekstrem hingga exceptional. Faktor lain yang memperburuk adalah pengelolaan air yang buruk selama puluhan tahun, termasuk pembangunan ratusan bendungan yang meningkatkan evaporasi, pengalihan air untuk industri dan pertanian, serta pengeboran sumur dalam secara masif yang menyebabkan penurunan muka air tanah dan subsidence (penurunan tanah) di berbagai kota seperti Isfahan. Pertanian menjadi penyumbang terbesar, menghabiskan sekitar 90% pasokan air untuk tanaman yang boros air seperti gandum, padi, dan tebu, meski di wilayah arid. Kebijakan swasembada pangan yang ambisius mempercepat eksploitasi sumber daya air tanpa mempertimbangkan keterbatasan alam. Overpopulasi dan pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan permintaan air domestik dan industri, sementara ekspansi pertanian tidak berkelanjutan serta pengabaian sistem tradisional seperti qanat (saluran air bawah tanah) semakin memperparah krisis. Di Irak, aliran Sungai Tigris dan Euphrates juga berkurang akibat bendungan di hulu (Turki dan Iran) serta faktor serupa. Hujan deras awal 2026 yang tiba-tiba muncul sudah diprediksi oleh para meteorolog sejak September 2025 berdasarkan pola musiman dan melemahnya tekanan tinggi di Atlantik Utara, jauh sebelum konflik memuncak. Perspektif Teologi Islam: Fitnah Dajjal yang Mengendalikan Langit dan Bumi Riwayat hadis tentang Dajjal memberikan gambaran yang sangat relevan dengan fenomena ini. Dalam hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan salah satu fitnah terbesar Dajjal: فَيَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ أَنْ تُمْطِرَ فَتُمْطِرَ وَيَأْمُرُ الأَرْضَ أَنْ تُنْبِتَ فَتُنْبِتَ “Dia akan mendatangi beberapa kaum dan menyeru mereka, dan mereka akan meresponnya dan beriman kepadanya. Kemudian Dia akan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan turunlah hujan, dan Dia akan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan bumi akan melakukan hal itu.” Dan sebaliknya: ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ مَا بِأَيْدِيهِمْ شَىْءٌ “Kemudian dia akan mendatangi beberapa orang (yang lain) dan memanggil mereka, dan mereka akan menolaknya, maka dia akan berpaling dari mereka dan mereka akan menderita kekeringan dan tidak mempunyai apa-apa.” (HR. Ibnu Majah) Ulama dan pemerhati akhir zaman melihat kemajuan teknologi modifikasi cuaca sebagai sarana potensial yang bisa disalahgunakan dalam fitnah ini. Teknologi yang semula diciptakan untuk kebaikan bisa menjadi alat menyesatkan jika jatuh ke tangan tiran atau sistem yang menentang kebenaran. Pelajaran dan Sikap yang Harus Diambil Umat Fenomena cuaca ekstrem, tuduhan pencurian hujan, dan kemajuan teknologi rekayasa cuaca seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Beberapa poin penting: Di era di mana manusia semakin mampu “bermain” dengan cuaca melalui berbagai teknologi canggih, kita semakin dituntut untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta cuaca itu sendiri. Kemajuan sains dan rekayasa alam tidak boleh menjadikan manusia lupa diri dan sombong, melainkan harus semakin mengingatkan kita akan kebesaran dan kekuasaan mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur segala sesuatu dengan qadar-Nya. Hanya kepada-Nya kita bertawakal, bukan
Yayasan FKAAI Hadiri Serah Terima Jabatan Kepala Bapas Kelas I Jakarta Barat

Jakarta Barat, 23 April 2026 – Yayasan FKAAI turut menghadiri kegiatan Serah Terima Jabatan dan Lepas Sambut Kepala Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Barat yang diselenggarakan pada Kamis (23/4) pukul 13.30 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Pusdiklat Pajak Kemanggisan, Jakarta Barat. Acara ini menandai pergantian kepemimpinan dari Ibu Sri Susilarti kepada Bapak Raden Mas Kristyo Nugroho sebagai Kepala Bapas Kelas I Jakarta Barat yang baru. Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kehangatan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi pejabat lama sekaligus penyambutan pejabat baru. Yayasan FKAAI dalam kesempatan ini diwakili oleh Afan Nafa selaku Divisi Humas FKAAI, sebagai bentuk dukungan terhadap sinergi dan kolaborasi dalam pembinaan serta reintegrasi sosial warga binaan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah unsur Forkopimko dan pemangku kepentingan, di antaranya Kasuban Kesbangpol Jakarta Barat Bapak Tumpal Hasiloan beserta jajaran Kepala SKPD, Kapolsek Palmerah Kompol Gomos Simamora, Panitera Muda Pidana Pengadilan Negeri Jakarta Barat Endang Purwaningsih, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Jakarta Barat Bapak Teguh Apriyanto, Pasi Ops Kodim 0503/Jakarta Barat Mayor CKE Wahidin, para pimpinan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan, organisasi wartawan dan media, pimpinan perbankan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para Kepala UPT Pemasyarakatan se-DKI Jakarta, serta seluruh pegawai Bapas Kelas I Jakarta Barat. Momentum ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antar lembaga dalam mendukung program pembinaan, pendampingan, serta reintegrasi sosial bagi warga binaan pemasyarakatan. Yayasan FKAAI menyampaikan apresiasi atas dedikasi Ibu Sri Susilarti selama menjabat, serta mengucapkan selamat kepada Bapak Raden Mas Kristyo Nugroho atas amanah baru yang diemban. Diharapkan kepemimpinan yang baru dapat membawa inovasi dan penguatan kolaborasi yang lebih luas.
Yayasan FKAAI Jawa Timur Gelar Halalbihalal: Merajut Ukhuwah, Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Surabaya – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan Yayasan FKAAI DPW Jawa Timur bersama Keluarga Besar Wiritan Jawa Timur. Pada Ahad, 12 April 2026, mereka menggelar acara Halalbihalal yang menjadi jembatan silaturahmi bagi para mantan narapidana terorisme (napiter), mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI), hingga simpatisan. Lebih dari sekadar pertemuan rutin pasca-Lebaran, momen ini menjadi momentum penting untuk merekatkan kembali tali ukhuwwah islamiyyah. Di balik jabat tangan yang erat, terselip pesan kuat mengenai penegasan ulang komitmen kebangsaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Acara ini pun mendapat apresiasi positif dari berbagai instansi terkait. Turut hadir tamu undangan khusus dari tim SATGASWIL Jawa Timur Densus 88 AT Polri, KOREM, BNPT, hingga Polrestabes, yang menunjukkan dukungan nyata terhadap proses reintegrasi sosial ini. Refleksi Diri dan Kedamaian Melalui Nasyid Sesi inti kegiatan diisi oleh Ketua LDK PP Muhammadiyah, Dr. (c). Muhammad Arifin, S.Ag., M.Ag. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh anggota yang hadir untuk menjadikan momen ini sebagai ajang renungan dan refleksi diri. Kedalaman materi yang disampaikan membawa suasana haru sekaligus optimisme bagi para peserta untuk terus melangkah ke arah yang lebih baik. Kehangatan acara semakin terasa saat senandung nasyid yang syahdu menggema di ruangan. Penampilan tersebut dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Musa (Mojokerto) dan Bisyir (Gresik). Keduanya merupakan eks napiter JI dan Alumni Moro, di mana Bisyir kini juga mengemban amanah sebagai Ketua FKAAI Gresik. Melalui nada, mereka menyampaikan pesan damai yang menyentuh hati. Melawan Stigma dengan Bakti Nyata Meski stigma negatif masih kerap mengintai di tengah masyarakat, semangat persatuan yang ditunjukkan oleh para anggota FKAAI menjadi bukti nyata perubahan mereka. Komitmen untuk kembali ke pangkuan NKRI tidak hanya diucapkan di bibir, tetapi diwujudkan melalui tekad untuk terus mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Melalui kegiatan seperti ini, Yayasan FKAAI membuktikan bahwa transformasi diri adalah perjalanan yang mungkin dilakukan, selama ada kemauan kuat dan dukungan dari seluruh lapisan bangsa. Editor: Erni Kurniati
