Yayasan FKAAI

Yayasan FKAAI Hadiri Serah Terima Jabatan Kepala Bapas Kelas I Jakarta Barat

Jakarta Barat, 23 April 2026 – Yayasan FKAAI turut menghadiri kegiatan Serah Terima Jabatan dan Lepas Sambut Kepala Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Barat yang diselenggarakan pada Kamis (23/4) pukul 13.30 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Pusdiklat Pajak Kemanggisan, Jakarta Barat. Acara ini menandai pergantian kepemimpinan dari Ibu Sri Susilarti kepada Bapak Raden Mas Kristyo Nugroho sebagai Kepala Bapas Kelas I Jakarta Barat yang baru. Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kehangatan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi pejabat lama sekaligus penyambutan pejabat baru. Yayasan FKAAI dalam kesempatan ini diwakili oleh Afan Nafa selaku Divisi Humas FKAAI, sebagai bentuk dukungan terhadap sinergi dan kolaborasi dalam pembinaan serta reintegrasi sosial warga binaan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah unsur Forkopimko dan pemangku kepentingan, di antaranya Kasuban Kesbangpol Jakarta Barat Bapak Tumpal Hasiloan beserta jajaran Kepala SKPD, Kapolsek Palmerah Kompol Gomos Simamora, Panitera Muda Pidana Pengadilan Negeri Jakarta Barat Endang Purwaningsih, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Jakarta Barat Bapak Teguh Apriyanto, Pasi Ops Kodim 0503/Jakarta Barat Mayor CKE Wahidin, para pimpinan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan, organisasi wartawan dan media, pimpinan perbankan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para Kepala UPT Pemasyarakatan se-DKI Jakarta, serta seluruh pegawai Bapas Kelas I Jakarta Barat. Momentum ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antar lembaga dalam mendukung program pembinaan, pendampingan, serta reintegrasi sosial bagi warga binaan pemasyarakatan. Yayasan FKAAI menyampaikan apresiasi atas dedikasi Ibu Sri Susilarti selama menjabat, serta mengucapkan selamat kepada Bapak Raden Mas Kristyo Nugroho atas amanah baru yang diemban. Diharapkan kepemimpinan yang baru dapat membawa inovasi dan penguatan kolaborasi yang lebih luas.

Yayasan FKAAI Jawa Timur Gelar Halalbihalal: Merajut Ukhuwah, Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

​Surabaya – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan Yayasan FKAAI DPW Jawa Timur bersama Keluarga Besar Wiritan Jawa Timur. Pada Ahad, 12 April 2026, mereka menggelar acara Halalbihalal yang menjadi jembatan silaturahmi bagi para mantan narapidana terorisme (napiter), mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI), hingga simpatisan. ​Lebih dari sekadar pertemuan rutin pasca-Lebaran, momen ini menjadi momentum penting untuk merekatkan kembali tali ukhuwwah islamiyyah. Di balik jabat tangan yang erat, terselip pesan kuat mengenai penegasan ulang komitmen kebangsaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). ​Acara ini pun mendapat apresiasi positif dari berbagai instansi terkait. Turut hadir tamu undangan khusus dari tim SATGASWIL Jawa Timur Densus 88 AT Polri, KOREM, BNPT, hingga Polrestabes, yang menunjukkan dukungan nyata terhadap proses reintegrasi sosial ini. ​Refleksi Diri dan Kedamaian Melalui Nasyid ​Sesi inti kegiatan diisi oleh Ketua LDK PP Muhammadiyah, Dr. (c). Muhammad Arifin, S.Ag., M.Ag. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh anggota yang hadir untuk menjadikan momen ini sebagai ajang renungan dan refleksi diri. Kedalaman materi yang disampaikan membawa suasana haru sekaligus optimisme bagi para peserta untuk terus melangkah ke arah yang lebih baik. ​Kehangatan acara semakin terasa saat senandung nasyid yang syahdu menggema di ruangan. Penampilan tersebut dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Musa (Mojokerto) dan Bisyir (Gresik). Keduanya merupakan eks napiter JI dan Alumni Moro, di mana Bisyir kini juga mengemban amanah sebagai Ketua FKAAI Gresik. Melalui nada, mereka menyampaikan pesan damai yang menyentuh hati. ​Melawan Stigma dengan Bakti Nyata ​Meski stigma negatif masih kerap mengintai di tengah masyarakat, semangat persatuan yang ditunjukkan oleh para anggota FKAAI menjadi bukti nyata perubahan mereka. Komitmen untuk kembali ke pangkuan NKRI tidak hanya diucapkan di bibir, tetapi diwujudkan melalui tekad untuk terus mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. ​Melalui kegiatan seperti ini, Yayasan FKAAI membuktikan bahwa transformasi diri adalah perjalanan yang mungkin dilakukan, selama ada kemauan kuat dan dukungan dari seluruh lapisan bangsa. Editor: Erni Kurniati

Halal Bihalal dan Silaturahmi Keluarga Yayasan FKAAI: Memaknai Syukur

JAKARTA – Yayasan FKAAI sukses menyelenggarakan acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Keluarga Besar pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Kantor FKAAI, Pasar Minggu. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta yang terdiri dari anggota Yayasan FKAAI beserta keluarga, pengawas yayasan, para penyintas, serta tamu undangan lainnya. ​Meningkatkan Keimanan dan Menjaga Silaturahmi ​Acara dibuka dengan doa bersama yang dipandu oleh MC, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara khidmat. Dalam sambutannya, Ketua Yayasan FKAAI, Suhail, menyambut kehadiran para peserta dengan hangat. Beliau menekankan pentingnya silaturahmi sebagai momentum untuk melepas kerinduan sekaligus wadah untuk saling mendoakan dalam kebaikan. ​Sesi kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Fuad Junaidi. Melalui pesan yang sederhana namun mendalam, Ustaz Fuad menegaskan bahwa syukur adalah cara terindah dalam menjaga hubungan manusia dengan Allah SWT. Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga hati agar tetap istiqamah. ​Untuk menjaga konsistensi (istiqamah) tersebut, Ustaz Fuad membagikan tiga kunci utama: (1) ​Senantiasa berdoa dan meminta keteguhan hati kepada Allah; (2) ​Melakukan segala sesuatu dengan ikhlas; (3) ​Mencari lingkungan yang suportif. ​Lingkungan seperti Yayasan FKAAI diharapkan mampu menjadi ekosistem yang menjaga niat baik anggotanya untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. ​Mendorong Kemandirian Ekonomi ​Tak hanya sisi spiritual, acara ini juga menghadirkan sesi diskusi kewirausahaan bersama Ibu Rully Mustaqimah, Founder & CEO CV Berkah Bersama Tanzif sekaligus Direktur Kerja Sama Penggerak OKE OCE Indonesia. ​Diskusi ini memberikan motivasi serta arahan terstruktur bagi anggota Yayasan FKAAI dalam membangun usaha mikro. Pembahasan mencakup poin-poin krusial seperti manajemen keuangan, strategi pemasaran melalui media sosial, pentingnya pengemasan produk (packaging), sistem affiliate, hingga pengurusan perizinan usaha dan sertifikasi. ​​Rangkaian acara ditutup dengan sesi refleksi yang penuh ketenangan dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Asep Saepudin. Semoga pertemuan ini membawa keberkahan serta mempererat tali persaudaraan bagi seluruh keluarga besar Yayasan FKAAI dan tamu undangan yang hadir. Editor: Erni Kurniati

Yayasan FKAAI Bersama Bapas Jakarta Barat Gelar Pembinaan Klien melalui Pendekatan Spiritual

Jakarta, 14 April 2026 – Sebagai tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) antara Bapas Jakarta Barat dan Yayasan FKAAI, telah dilaksanakan kegiatan pembinaan bagi klien Bapas Jakarta Barat pada Selasa (14/4), mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan yang bertujuan untuk memperkuat aspek mental, moral, dan spiritual para klien agar mampu menjalani kehidupan yang lebih baik serta siap kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat. Acara dibuka oleh pihak Bapas Jakarta Barat dan dihadiri oleh para klien Bapas dengan pendampingan langsung dari petugas Bapas, Ali Rachmat Akbar. Rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, dimulai dari pembukaan, penyampaian materi pembinaan, sesi tanya jawab, pelatihan dari pihak Bapas, hingga penutup. Pada sesi inti, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Fuad Junaidi dari Yayasan FKAAI. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan tentang tujuan Allah SWT menurunkan syariat sebagai pedoman hidup manusia, yang di dalamnya terdapat perintah dan larangan demi menjaga kemaslahatan. Ustadz Fuad Junaidi menguraikan lima prinsip utama dalam menjaga kehidupan berdasarkan nilai-nilai syariat, yaitu:• Menjaga agama (din) melalui ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT• Menjaga jiwa (nafs) dengan menjauhi tindakan kekerasan seperti membunuh• Menjaga akal (‘aql) dengan menghindari minuman keras dan narkoba• Menjaga keturunan (nasl) dengan menjauhi zina dan menganjurkan pernikahan• Menjaga harta (mal) dengan menghindari perbuatan seperti mencuri, korupsi, dan penipuan Materi ini disampaikan secara sederhana dan aplikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta serta relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain pembinaan spiritual, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi pelatihan dari pihak Bapas sebagai bentuk pembekalan keterampilan bagi para klien. Sesi tanya jawab yang interaktif menunjukkan antusiasme peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.Melalui kegiatan ini, diharapkan para klien Bapas Jakarta Barat dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai kehidupan, meningkatkan kesadaran diri, serta memiliki motivasi untuk terus memperbaiki diri. Sinergi antara Bapas Jakarta Barat dan Yayasan FKAAI menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial yang berkelanjutan.

Lawan Kejahatan Digital, Yayasan FKAAI Edukasi Masyarakat melalui Webinar Cyber Security Awareness

​JAKARTA – Ancaman siber tidak lagi hanya menyasar korporasi besar, namun kini telah masuk ke ranah privat dan keluarga. Merespons fenomena tersebut, Yayasan FKAAI sukses menggelar webinar bertajuk “Melindungi Keluarga dari Serangan Siber” pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2026 dari pukul 16.00-17.30 WIB. ​Acara yang berlangsung via Zoom ini menghadirkan Muhammad Rizki, seorang Presales Network Security dan Relawan Yayasan FKAAI di Divisi Media, sebagai narasumber utama. Webinar ini bertujuan untuk mengubah pengguna internet biasa menjadi individu yang memiliki kesadaran tinggi untuk mengenali dan menghindari ancaman digital. ​Antusias Partisipan ​Webinar ini menarik antusiasme yang tinggi dan aktif berdiskusi dengan dihadiri kurang lebih 60 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Kehadiran peserta mencakup pengurus dan anggota FKAAI, perwakilan pemerintah, anggota kepolisian, lembaga kontra radikalisme, hingga masyarakat umum.​Menariknya, acara ini juga diikuti oleh sejumlah mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini aktif berintegrasi kembali ke masyarakat. Keikutsertaan elemen yang beragam ini menunjukkan bahwa kesadaran akan keamanan siber telah menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. ​Dalam pemaparannya, Rizki menyoroti berbagai tren kejahatan siber yang kian canggih, mulai dari ransomware hingga eksploitasi celah keamanan pada perangkat pintar. Ia menjelaskan bahwa motivasi pelaku sangat beragam, tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga dorongan ideologi hingga upaya rekrutmen oleh kelompok tertentu melalui ruang digital.​” Kita harus waspada terhadap hal-hal yang terlihat sederhana namun fatal, seperti file instalasi .apk berkedok surat undangan digital atau situs phishing yang bertujuan mencuri data sensitif seperti OTP dan kata sandi, ” ujar Rizki. ​Praktik Terbaik dan Perlindungan Anak ​Peserta dibekali dengan berbagai langkah proteksi mandiri, seperti penggunaan password manager , aktivasi Two-Factor Authentication (2FA), hingga pemanfaatan layanan pemindai keamanan seperti Virustotal.com. Selain itu, orang tua diimbau menggunakan fitur Parental Control seperti Google Family Safety untuk memantau aktivitas digital anak.​Acara yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan pembagian doorprize berupa antivirus Bitdefender kepada peserta terpilih. Melalui kegiatan ini dan seminar Cyber Security yang akan datang, Yayasan FKAAI berharap kesadaran keamanan siber dapat tumbuh secara kolektif, menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi keluarga Indonesia. Editor: Erni Kurniati

FKAAI Distribusikan 100 Paket Sembako Lebaran untuk Korban Aksi Terorisme dan Eks-Napiter di Jakarta

JAKARTA – Yayasan Forum Komunikasi Aktifis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) kembali menyalurkan kepedulian di bulan suci Ramadhan. Bertempat di kantor yayasan, pengurus FKAAI telah menerima dukungan sosial berupa 100 paket sembako lebaran dari KOMINDA DKI Jakarta. Bantuan ini ditujukan bagi sasaran penerima manfaat yang mencakup penyintas (korban) aksi terorisme, keluarga napiter, mantan napiter, keluarga returni, hingga mitra program deradikalisasi di wilayah Jabodetabek. Apresiasi dari Para Penyintas Dukungan ini disambut baik oleh komunitas penyintas. Sri Lestari, pengurus dari Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), menyampaikan rasa syukurnya:“ Saya pengurus dan anggota dari Yayasan Keluarga Penyintas (YKP) mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pengurus FKAAI atas pemberian paketnya. Semoga amal ibadahnya Allah balas dengan ganjaran yang lebih baik lagi.” Senada dengan hal tersebut, Mahanani, yang juga merupakan seorang penyintas, memberikan pesan penuh semangat untuk keberlanjutan program ini:“ Terima kasih untuk FKAAI yang telah memberikan paket lebaran untuk tahun ini dan semoga paket lebaran ini membawa berkah bagi kita semua. Semoga juga untuk kegiatan selanjutnya kita akan lebih mengutamakan dan lebih semangat untuk para penyintas yang belum pernah datang ke FKAAI.” Catatan dan Harapan Pengurus Abdul Rohim Sidik, selaku pengurus FKAAI, memberikan apresiasi sekaligus evaluasi terkait tantangan distribusi tahun ini:“ Menurut saya, bingkisan lebaran dari Kominda sangat membantu dalam kondisi serba sulit pada tahun ini. Namun, yang menjadi perhatian saya adalah distribusi ke para penerima manfaat akan menyita waktu lebih lama karena lokasinya yang jauh dan minimnya tenaga untuk mengantar. Kalaupun penerima dikumpulkan di kantor FKAAI, itu juga akan menimbulkan masalah baru.” Ia berharap ke depannya terdapat manajemen panitia distribusi yang lebih efektif dan efisien agar paket dapat tersalurkan lebih cepat, serta adanya usulan tambahan uang saku untuk kebutuhan para penerima manfaat lainnya. Kegiatan ini merupakan implementasi dari visi Yayasan FKAAI untuk terus menebar kasih sayang bagi semua umat dan mempererat tali silaturahim antara mantan pelaku terorisme dengan penyintas aksi terorisme serta masyarakat luas. Editor: Erni Kurniati

KORMA: Ajak Umat Menjadi Insan Mulia di Bulan Ramadan

JAKARTA – Menyambut kemuliaan bulan suci Ramadan 1447 H, Yayasan Forum Komunikasi Aktivis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) sukses menggelar kajian keagamaan yang menyejukkan bertajuk Kajian Online Romadhoon Menuju Akhlakul Karimah (KORMA) 2026 pada Ahad, 1 Maret 2026. Acara yang dilangsungkan melalui platform Zoom Meeting ini mengangkat tema inspiratif, “Menjadi Insan Mulia di Bulan Romadhoon Dengan Akhlakulkarimah”. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 16.00 an WIB ini dihadiri oleh 26 peserta dari pengurus harian FKAAI, pengawas FKAAI, pembina FKAAI, dan masyarakat umum. Meski dilaksanakan secara daring, antusiasme peserta terasa sangat kental sejak sesi streaming awal yang diiringi oleh percakapan hangat yang saling menyapa satu sama lainnya. Esensi Akhlak dalam Beribadah Acara dibuka secara resmi oleh MC (Master of Ceremony) yang membawakan suasana dengan energik dan santai — atau yang secara jenaka disebut oleh salah satu pembicara sebagai gaya “anak muda banget” (Gen-Z culture). Setelah pembukaan, sesi utama pun dimulai dengan menghadirkan Ustadz Ainul Bahri, atau yang akrab disapa Pak Guru, sebagai pemateri tunggal. Dalam ceramahnya, Ustadz Ainul Bahri menekankan di awal diskusi bahwa akhlak menepati posisi yang penting. Dari penjelasan hadis Rasulullah S.A.W. yang menyinggung soal menjadi “muslim yang baik” dan sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dalam hadis yang dijelaskan narasumber juga mengingatkan kembali pentingnya berbuat baik kepada keluarga (istri). Ini menyinggung sekali lagi, bagaimana pentingnya berbuat baik itu dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, pertemanan, dan seterusnya ke lingkungan yang lebih luas. Dalam ceramahnya, banyak kutipan-kutipan menarik untuk direnungi, salah satunya adalah “Senantiasa antusias untuk melakukan kebaikan. […] Tidak pernah berhenti melakukan kebaikan. Apa saja peluang di dalam Islam, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuliskan, atau menyatakan ada pahala di dalamnya.” Di bulan Ramadan ini, narasumber mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi menjelaskan bahwa inti dari ibadah puasa adalah transformasi karakter. Menjadi insan mulia tidak bisa dipisahkan dari bagaimana kita memperlakukan sesama. Akhlakulkarimah adalah buah dari iman yang benar. Beliau juga mengingatkan bahwa bulan Ramadan adalah momentum “madrasah” atau sekolah singkat bagi setiap Muslim untuk memperbaiki tutur kata, kesabaran, dan empati kepada sesama. Interaksi dan Dinamika Acara Sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Meski sempat terjadi kendala teknis kecil terkait koneksi sinyal yang terputus, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta untuk bertanya. Pertanyaan yang masuk melalui kolom chat Zoom difilter oleh panitia untuk kemudian dijawab secara mendalam oleh Ustadz Ainul Bahri. Salah satu momen menarik menunjukkan bagaimana interaksi hangat terjadi antara pemateri dan peserta, menciptakan suasana kekeluargaan meskipun terpisah jarak. Kekuatan sinyal memang sempat menjadi tantangan, namun komitmen panitia dalam menjaga alur acara membuat kegiatan tetap berjalan sesuai rundown. Penutup yang Berkesan Menjelang waktu berbuka puasa, acara ditutup dengan doa dan ucapan terima kasih kepada narasumber serta seluruh peserta yang telah hadir. Panitia juga mengumumkan agenda kajian berikutnya yang diharapkan dapat terus menjadi wadah silaturahmi sekaligus peningkatan kapasitas keilmuan. Melalui kegiatan KORMA 2026 ini, diharapkan para peserta tidak hanya mendapatkan asupan ilmu secara kognitif, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, terutama selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan tahun ini. Penyusun : Erni KurniatiEditor : Erni Kurniati

Hikmah Kebangsaan Ramadhan: Meneguhkan Kedisiplinan dan Persatuan Bangsa

Tangerang Selatan – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Rumah Wasathiyah menggelar kegiatan bertajuk “Hikmah Kebangsaan Bulan Suci Ramadhan” yang dilaksanakan secara hibrida pada Minggu, 1 Maret 2026. Acara ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat semangat kebangsaan, persatuan, serta komitmen menjaga nilai-nilai moderasi (wasathiyah) dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kegiatan yang diselenggarakan di Sekretariat Rumah Wasathiyah, Ciputat Timur ini menghadirkan tiga tokoh pemikir yang memberikan perspektif mendalam mengenai peran Ramadhan bagi individu dan bangsa. Sebagai pembicara pertama, Ust. Ir. Parawijayanto menyoroti pentingnya kebersamaan. “Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum bagi kita untuk merawat ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dengan menempatkan semangat persatuan di atas segala perbedaan yang ada,” ujarnya. Melanjutkan diskusi sebagai pembicara kedua, Ust. Dr. Mustaqim Safar menegaskan urgensi perubahan positif. Menurutnya, “Ramadhan adalah momentum emas bagi kita untuk melakukan transformasi diri, yang pada akhirnya akan menjadi katalisator bagi perubahan besar dalam memperkuat komitmen kebangsaan kita sebagai satu kesatuan bangsa.” Sebagai penutup, pembicara ketiga KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., MA. memberikan penekanan pada aspek karakter. Ia menyatakan, “Puasa merupakan ibadah yang menuntun kita pada jalan yang paling lurus. Di dalamnya, terkandung pelajaran berharga tentang pentingnya ketelitian dan kedisiplinan tinggi, yang harus kita implementasikan dalam perilaku sehari-hari demi mencapai ketakwaan.” Kegiatan ini turut didukung oleh pihak kepolisian, di mana sebelumnya Rumah Wasathiyah telah memohon dukungan kepada Kepala Densus 88 AT Polri, Irjen Pol Sentot Prasetyo, S.I.K, agar dapat mengarahkan para Kasatgaswil untuk hadir bersama eks JI. Partisipasi aktif dari berbagai elemen dalam acara ini diharapkan dapat memperkuat pesan kebangsaan serta semangat persaudaraan yang menjadi tujuan utama kegiatan.

Kajian Bulanan Yayasan FKAAI “Meningkatkan Keimanan Dengan Persaudaraan”.

Jakarta, FKAAI – Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya, beberapa hadits Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224) dan “Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Berdasar tuntunan diatas Yayasan FKAAI pada hari Ahad (24/11/2024) kembali mengadakan kajian bulanan, yang merupakan program rutin Yayasan FKAAI setiap bulannya, dan pada kesempatan kali ini kegiatan dilaksanakan di Kantor Yayasan FKAAI di Gg. H. Sofiah No.21A, RT.5/RW.6, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tema yang diangkat dalam kajian bulanan November ini adalah “Meningkatkan Keimanan Dengan Persaudaraan”. Kajian yang diikuti oleh anggota Yayasan FKAAI beserta keluarganya (sekitar 50an peserta) ini diisi oleh Ustadz Zahroni (Mbah Zarkasih) dan Ustadz Nasir Abas (Pembina Yayasan FKAAI). Mbah Zarkasih dalam penyampaiannya sangat menekankan pada pentingnya bersandar pada para Ulama/orang yang berilmu dalam masalah-masalah agama,“FAS’ALU AHLADZDZIKRI INKUNTUM LAA TA’LAMUN.” Artinya “Maka bertanyalah kepada ahlu-dzdzikr jika kamu tidak mengetahui”. Pesan Mbah Zarkasih Sementara itu, Pembina Yayasan FKAAI Nasir Abas dalam penyampaiannya, pentingnya mengikuti apa yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wa sallam,“Innamaa bu’itstu laa tammima makaaramal akhlaq.” Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” ujar Ustadz Nasir Abas. Acara kajian bulanan ini diharapkan menjadi salah satu penguat hubungan persaudaraan antar anggota Yayasan FKAAI, juga sarana silaturahmi dengan tokoh agama, apparat pemerintah serta Lembaga lainnya, yang juga diundang dalam setiap acara kajian bulanan seperti ini. Selanjutnya kajian dilanjutkan dengan tanya jawab, doa penutup dari Ustadz Mbah Zarkasih dan foto Bersama para peserta kajian.

The Power of Forgiveness :

peluncuran buku tony soemarno

Antara Penyintas Bom dan Mantan Pelaku Terorisme 5 Agustus 2023 merupakan Hari Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott. Peristiwa ledakan bom di hotel JW Marriott di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 5 Agustus 2003 tersebut menyisakan duka mendalam bagi korban, dan juga merupakan cacatan hitam bagi kemanusiaan. Ledakan yang terjadi di hotel JW Marriott berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil. Sejumlah saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi kejadian saat itu, dan juga yang berada di rumah sakit mengisahkan bahwa ledakan sangatlah kuat. Bom tersebut menghancurkan seluruh restoran hotel, lobby, bahkan lantai dasar bangunan hotel. Hingga kini, ledakan bom di JW Marriott tercatat menewaskan 14 orang dan mencederai 150 orang, yang sebagian menderita luka ringan, dan sebagian lainnya menderita luka serius yang permanen. Pada 5 Agustus 2023, Yayasan FKAAI bekerjasama dengan Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), menyelenggarakan sebuah acara yang berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott’”. Dengan didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan POLRI (Densus 88 Anti Teror). Acara diselenggrakan di SHAN Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Yayasan FKAAI dan YKP mengundang 30 orang korban bom beserta keluarga, 40 orang mantan napiter, mantan kombatan, dan mantan jaringan beserta keluarga, juga mengundang perwakilan dari kalangan mahasiswa, media, dan para pemangku kepentingan dari pemerintahan. Acara juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial Yayasan FKAAI. Dalam kesempatan ini, turut digelar acara Rekonsiliasi antara para penyintas dan para mantan napiter. Saat para mantan napiter berhadapan di atas panggung acara bersama para penyintas, Umar Patek mewakili mantan napiter menyampaikan permintaan maaf kepada para korban atas segala perbuatan yang sangat merugikan bagi korban yang hadir di acara ini, maupun yang tidak dapat hadir. Mantan napiter Hisyam alias Umar Patek meminta maaf kepada para korban bom Hotel JW Marriot. “Assalamualaikum, saya Hisyam yang biasa dipanggil Umar Patek dan teman-teman para mantan napiter kami memohon maaf, atas semua dosa-dosa yang pernah kami lakukan terhadap bapak ibu semua dan saudara-saudara kita yang tidak bisa hadir di tempat ini,” kata Umar Patek. Beliau berharap permohonan maaf itu bisa menjadi peringan dari yaumul hisab. Umar Patek menyadari segala perbuatan di dunia, termasuk aksi teror bom Hotel JW Marriot pada 2003 silam akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Ta’Ala di akhirat kelak. “Sekalipun saya pernah mencegah, tapi tidak berhasil. Saya tetap dihantui kesalahan terus menerus. Demikian pula dengan teman-teman yang lain, semoga mau memaafkan kami,” Ujar Umar Patek dengan suara parau dan berlinang air mata. Setelah menyampaikan permohonan maaf, Umar Patek dan rekan-rekan mantan napiter lainnya langsung menyalami para korban yang juga hadir dalam acara peringatan 20 tahun tragedi Bom Marriot. Para korban juga langsung menyambut permintaan maaf tersebut. Salah satu perwakilan korban menyampaikan dia ikhlas dan bersedia memaafkan mantan Napiter yang melakukan pengeboman. Menurut salah satu korban yang tidak disebutkan identitasnya itu, walau berat tapi ia percaya Allah Maha Pemaaf. “Kita cuma manusia biasa semoga bapak semuanya tidak mengulangi lagi, bertaubat, benar-benar berada di jalan Allah yang tidak sesat, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Semoga tidak ada lagi pengeboman atau apapun di Indonesia khususnya, kami maafkan pak,” kata salah satu korban itu di sela-sela tangisnya. Suasana acara menjadi sangat emosional dan menyentuh relung hati tiap orang yang hadir menyaksikan momen langka tersebut. Lelehan air mata mengalir dari para korban, mantan pelaku, pun tamu undangan lainnya. Namun itu bukanlah air mata akibat meratapi nasib yang lalu, melainkan karena merasakan haru akan rasa kedamaian yang mulai tumbuh dari permintaan maaf yang disambut dengan penerimaan yang lapang dada. Sungguh sebuah tindakan luar biasa dari para korban, dengan keluasan hati dan kekuatan batin untuk menerima permintaan maaf dan mau memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Semoga hal ini menjadi awal baik untuk kesatuan dan persatuan bangsa Acara ditutup dengan bedah buku The Power of Forgiveness karya Tony Soemarno salah satu penyintas bom JW Marriot 2003. Acara Bedah Buku ini menghadirkan Tany Soemarno selaku penulis buku, Umar Patek sebagai narasumber yang merupakan mantan napiter, dan Mohd Adhe Bhakti, seorang peneliti Terorisme dan Direktur Eksekutif PAKAR, dan Dr. Zora A. Sukabdi seorang Peneliti dan Dosen UI sebagai Moderator. Secara garis besar, buku ini menceritakan sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, sejak beliau menjadi korban bom JW Marriott 2003 hingga menjadi aktivis deradikalisasi yang aktif mengunjungi dan berdiskusi dengan para narapidana kasus teror di dalam penjara. Perjalanannya mengunjungi napiter dari berbagai lapas, sebagai upaya untuk memaafkan dan membantu mereka menemukan jalan terang dalam hidupnya. Kisah beliau sangat inspiratif untuk dibagikan dalam mencegah terulangnya perbuatan aksi terorisme. Tanggapan menarik yang diberikan oleh Mohd Adhe Bhakti adalah bahwa Ia percaya akan kekuatan dari memaafkan yang dituliskan oleh Tony Soemarno dalam bukunya, sebagaimana Adhe Bhakti juga percaya akan kekuatan dari perubahan. Bahwa setiap orang bisa berubah, seperti contoh nyata yaitu seorang yang sekarang telah menjadi kawan di sampingnya, Umar Patek. Yayasan FKAAI berharap dengan menyelenggarakan acara Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku “The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” karya Tony Soemarno ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya terorisme agar kedepannya tidak terulang lagi tragedi-tragedi serupa di tanah air Indonesia.[]