Lawan Kejahatan Digital, Yayasan FKAAI Edukasi Masyarakat melalui Webinar Cyber Security Awareness

JAKARTA – Ancaman siber tidak lagi hanya menyasar korporasi besar, namun kini telah masuk ke ranah privat dan keluarga. Merespons fenomena tersebut, Yayasan FKAAI sukses menggelar webinar bertajuk “Melindungi Keluarga dari Serangan Siber” pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2026 dari pukul 16.00-17.30 WIB. Acara yang berlangsung via Zoom ini menghadirkan Muhammad Rizki, seorang Presales Network Security dan Relawan Yayasan FKAAI di Divisi Media, sebagai narasumber utama. Webinar ini bertujuan untuk mengubah pengguna internet biasa menjadi individu yang memiliki kesadaran tinggi untuk mengenali dan menghindari ancaman digital. Antusias Partisipan Webinar ini menarik antusiasme yang tinggi dan aktif berdiskusi dengan dihadiri kurang lebih 60 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Kehadiran peserta mencakup pengurus dan anggota FKAAI, perwakilan pemerintah, anggota kepolisian, lembaga kontra radikalisme, hingga masyarakat umum.Menariknya, acara ini juga diikuti oleh sejumlah mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini aktif berintegrasi kembali ke masyarakat. Keikutsertaan elemen yang beragam ini menunjukkan bahwa kesadaran akan keamanan siber telah menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dalam pemaparannya, Rizki menyoroti berbagai tren kejahatan siber yang kian canggih, mulai dari ransomware hingga eksploitasi celah keamanan pada perangkat pintar. Ia menjelaskan bahwa motivasi pelaku sangat beragam, tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga dorongan ideologi hingga upaya rekrutmen oleh kelompok tertentu melalui ruang digital.” Kita harus waspada terhadap hal-hal yang terlihat sederhana namun fatal, seperti file instalasi .apk berkedok surat undangan digital atau situs phishing yang bertujuan mencuri data sensitif seperti OTP dan kata sandi, ” ujar Rizki. Praktik Terbaik dan Perlindungan Anak Peserta dibekali dengan berbagai langkah proteksi mandiri, seperti penggunaan password manager , aktivasi Two-Factor Authentication (2FA), hingga pemanfaatan layanan pemindai keamanan seperti Virustotal.com. Selain itu, orang tua diimbau menggunakan fitur Parental Control seperti Google Family Safety untuk memantau aktivitas digital anak.Acara yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan pembagian doorprize berupa antivirus Bitdefender kepada peserta terpilih. Melalui kegiatan ini dan seminar Cyber Security yang akan datang, Yayasan FKAAI berharap kesadaran keamanan siber dapat tumbuh secara kolektif, menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi keluarga Indonesia. Editor: Erni Kurniati
FKAAI Distribusikan 100 Paket Sembako Lebaran untuk Korban Aksi Terorisme dan Eks-Napiter di Jakarta

JAKARTA – Yayasan Forum Komunikasi Aktifis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) kembali menyalurkan kepedulian di bulan suci Ramadhan. Bertempat di kantor yayasan, pengurus FKAAI telah menerima dukungan sosial berupa 100 paket sembako lebaran dari KOMINDA DKI Jakarta. Bantuan ini ditujukan bagi sasaran penerima manfaat yang mencakup penyintas (korban) aksi terorisme, keluarga napiter, mantan napiter, keluarga returni, hingga mitra program deradikalisasi di wilayah Jabodetabek. Apresiasi dari Para Penyintas Dukungan ini disambut baik oleh komunitas penyintas. Sri Lestari, pengurus dari Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), menyampaikan rasa syukurnya:“ Saya pengurus dan anggota dari Yayasan Keluarga Penyintas (YKP) mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pengurus FKAAI atas pemberian paketnya. Semoga amal ibadahnya Allah balas dengan ganjaran yang lebih baik lagi.” Senada dengan hal tersebut, Mahanani, yang juga merupakan seorang penyintas, memberikan pesan penuh semangat untuk keberlanjutan program ini:“ Terima kasih untuk FKAAI yang telah memberikan paket lebaran untuk tahun ini dan semoga paket lebaran ini membawa berkah bagi kita semua. Semoga juga untuk kegiatan selanjutnya kita akan lebih mengutamakan dan lebih semangat untuk para penyintas yang belum pernah datang ke FKAAI.” Catatan dan Harapan Pengurus Abdul Rohim Sidik, selaku pengurus FKAAI, memberikan apresiasi sekaligus evaluasi terkait tantangan distribusi tahun ini:“ Menurut saya, bingkisan lebaran dari Kominda sangat membantu dalam kondisi serba sulit pada tahun ini. Namun, yang menjadi perhatian saya adalah distribusi ke para penerima manfaat akan menyita waktu lebih lama karena lokasinya yang jauh dan minimnya tenaga untuk mengantar. Kalaupun penerima dikumpulkan di kantor FKAAI, itu juga akan menimbulkan masalah baru.” Ia berharap ke depannya terdapat manajemen panitia distribusi yang lebih efektif dan efisien agar paket dapat tersalurkan lebih cepat, serta adanya usulan tambahan uang saku untuk kebutuhan para penerima manfaat lainnya. Kegiatan ini merupakan implementasi dari visi Yayasan FKAAI untuk terus menebar kasih sayang bagi semua umat dan mempererat tali silaturahim antara mantan pelaku terorisme dengan penyintas aksi terorisme serta masyarakat luas. Editor: Erni Kurniati
KORMA: Ajak Umat Menjadi Insan Mulia di Bulan Ramadan

JAKARTA – Menyambut kemuliaan bulan suci Ramadan 1447 H, Yayasan Forum Komunikasi Aktivis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) sukses menggelar kajian keagamaan yang menyejukkan bertajuk Kajian Online Romadhoon Menuju Akhlakul Karimah (KORMA) 2026 pada Ahad, 1 Maret 2026. Acara yang dilangsungkan melalui platform Zoom Meeting ini mengangkat tema inspiratif, “Menjadi Insan Mulia di Bulan Romadhoon Dengan Akhlakulkarimah”. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 16.00 an WIB ini dihadiri oleh 26 peserta dari pengurus harian FKAAI, pengawas FKAAI, pembina FKAAI, dan masyarakat umum. Meski dilaksanakan secara daring, antusiasme peserta terasa sangat kental sejak sesi streaming awal yang diiringi oleh percakapan hangat yang saling menyapa satu sama lainnya. Esensi Akhlak dalam Beribadah Acara dibuka secara resmi oleh MC (Master of Ceremony) yang membawakan suasana dengan energik dan santai — atau yang secara jenaka disebut oleh salah satu pembicara sebagai gaya “anak muda banget” (Gen-Z culture). Setelah pembukaan, sesi utama pun dimulai dengan menghadirkan Ustadz Ainul Bahri, atau yang akrab disapa Pak Guru, sebagai pemateri tunggal. Dalam ceramahnya, Ustadz Ainul Bahri menekankan di awal diskusi bahwa akhlak menepati posisi yang penting. Dari penjelasan hadis Rasulullah S.A.W. yang menyinggung soal menjadi “muslim yang baik” dan sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dalam hadis yang dijelaskan narasumber juga mengingatkan kembali pentingnya berbuat baik kepada keluarga (istri). Ini menyinggung sekali lagi, bagaimana pentingnya berbuat baik itu dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, pertemanan, dan seterusnya ke lingkungan yang lebih luas. Dalam ceramahnya, banyak kutipan-kutipan menarik untuk direnungi, salah satunya adalah “Senantiasa antusias untuk melakukan kebaikan. […] Tidak pernah berhenti melakukan kebaikan. Apa saja peluang di dalam Islam, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuliskan, atau menyatakan ada pahala di dalamnya.” Di bulan Ramadan ini, narasumber mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi menjelaskan bahwa inti dari ibadah puasa adalah transformasi karakter. Menjadi insan mulia tidak bisa dipisahkan dari bagaimana kita memperlakukan sesama. Akhlakulkarimah adalah buah dari iman yang benar. Beliau juga mengingatkan bahwa bulan Ramadan adalah momentum “madrasah” atau sekolah singkat bagi setiap Muslim untuk memperbaiki tutur kata, kesabaran, dan empati kepada sesama. Interaksi dan Dinamika Acara Sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Meski sempat terjadi kendala teknis kecil terkait koneksi sinyal yang terputus, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta untuk bertanya. Pertanyaan yang masuk melalui kolom chat Zoom difilter oleh panitia untuk kemudian dijawab secara mendalam oleh Ustadz Ainul Bahri. Salah satu momen menarik menunjukkan bagaimana interaksi hangat terjadi antara pemateri dan peserta, menciptakan suasana kekeluargaan meskipun terpisah jarak. Kekuatan sinyal memang sempat menjadi tantangan, namun komitmen panitia dalam menjaga alur acara membuat kegiatan tetap berjalan sesuai rundown. Penutup yang Berkesan Menjelang waktu berbuka puasa, acara ditutup dengan doa dan ucapan terima kasih kepada narasumber serta seluruh peserta yang telah hadir. Panitia juga mengumumkan agenda kajian berikutnya yang diharapkan dapat terus menjadi wadah silaturahmi sekaligus peningkatan kapasitas keilmuan. Melalui kegiatan KORMA 2026 ini, diharapkan para peserta tidak hanya mendapatkan asupan ilmu secara kognitif, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, terutama selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan tahun ini. Penyusun : Erni KurniatiEditor : Erni Kurniati
Hikmah Kebangsaan Ramadhan: Meneguhkan Kedisiplinan dan Persatuan Bangsa

Tangerang Selatan – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Rumah Wasathiyah menggelar kegiatan bertajuk “Hikmah Kebangsaan Bulan Suci Ramadhan” yang dilaksanakan secara hibrida pada Minggu, 1 Maret 2026. Acara ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat semangat kebangsaan, persatuan, serta komitmen menjaga nilai-nilai moderasi (wasathiyah) dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kegiatan yang diselenggarakan di Sekretariat Rumah Wasathiyah, Ciputat Timur ini menghadirkan tiga tokoh pemikir yang memberikan perspektif mendalam mengenai peran Ramadhan bagi individu dan bangsa. Sebagai pembicara pertama, Ust. Ir. Parawijayanto menyoroti pentingnya kebersamaan. “Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum bagi kita untuk merawat ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dengan menempatkan semangat persatuan di atas segala perbedaan yang ada,” ujarnya. Melanjutkan diskusi sebagai pembicara kedua, Ust. Dr. Mustaqim Safar menegaskan urgensi perubahan positif. Menurutnya, “Ramadhan adalah momentum emas bagi kita untuk melakukan transformasi diri, yang pada akhirnya akan menjadi katalisator bagi perubahan besar dalam memperkuat komitmen kebangsaan kita sebagai satu kesatuan bangsa.” Sebagai penutup, pembicara ketiga KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Lc., MA. memberikan penekanan pada aspek karakter. Ia menyatakan, “Puasa merupakan ibadah yang menuntun kita pada jalan yang paling lurus. Di dalamnya, terkandung pelajaran berharga tentang pentingnya ketelitian dan kedisiplinan tinggi, yang harus kita implementasikan dalam perilaku sehari-hari demi mencapai ketakwaan.” Kegiatan ini turut didukung oleh pihak kepolisian, di mana sebelumnya Rumah Wasathiyah telah memohon dukungan kepada Kepala Densus 88 AT Polri, Irjen Pol Sentot Prasetyo, S.I.K, agar dapat mengarahkan para Kasatgaswil untuk hadir bersama eks JI. Partisipasi aktif dari berbagai elemen dalam acara ini diharapkan dapat memperkuat pesan kebangsaan serta semangat persaudaraan yang menjadi tujuan utama kegiatan.
Kajian Bulanan Yayasan FKAAI “Meningkatkan Keimanan Dengan Persaudaraan”.

Jakarta, FKAAI – Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya, beberapa hadits Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224) dan “Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Berdasar tuntunan diatas Yayasan FKAAI pada hari Ahad (24/11/2024) kembali mengadakan kajian bulanan, yang merupakan program rutin Yayasan FKAAI setiap bulannya, dan pada kesempatan kali ini kegiatan dilaksanakan di Kantor Yayasan FKAAI di Gg. H. Sofiah No.21A, RT.5/RW.6, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tema yang diangkat dalam kajian bulanan November ini adalah “Meningkatkan Keimanan Dengan Persaudaraan”. Kajian yang diikuti oleh anggota Yayasan FKAAI beserta keluarganya (sekitar 50an peserta) ini diisi oleh Ustadz Zahroni (Mbah Zarkasih) dan Ustadz Nasir Abas (Pembina Yayasan FKAAI). Mbah Zarkasih dalam penyampaiannya sangat menekankan pada pentingnya bersandar pada para Ulama/orang yang berilmu dalam masalah-masalah agama,“FAS’ALU AHLADZDZIKRI INKUNTUM LAA TA’LAMUN.” Artinya “Maka bertanyalah kepada ahlu-dzdzikr jika kamu tidak mengetahui”. Pesan Mbah Zarkasih Sementara itu, Pembina Yayasan FKAAI Nasir Abas dalam penyampaiannya, pentingnya mengikuti apa yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wa sallam,“Innamaa bu’itstu laa tammima makaaramal akhlaq.” Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” ujar Ustadz Nasir Abas. Acara kajian bulanan ini diharapkan menjadi salah satu penguat hubungan persaudaraan antar anggota Yayasan FKAAI, juga sarana silaturahmi dengan tokoh agama, apparat pemerintah serta Lembaga lainnya, yang juga diundang dalam setiap acara kajian bulanan seperti ini. Selanjutnya kajian dilanjutkan dengan tanya jawab, doa penutup dari Ustadz Mbah Zarkasih dan foto Bersama para peserta kajian.
The Power of Forgiveness :

Antara Penyintas Bom dan Mantan Pelaku Terorisme 5 Agustus 2023 merupakan Hari Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott. Peristiwa ledakan bom di hotel JW Marriott di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 5 Agustus 2003 tersebut menyisakan duka mendalam bagi korban, dan juga merupakan cacatan hitam bagi kemanusiaan. Ledakan yang terjadi di hotel JW Marriott berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil. Sejumlah saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi kejadian saat itu, dan juga yang berada di rumah sakit mengisahkan bahwa ledakan sangatlah kuat. Bom tersebut menghancurkan seluruh restoran hotel, lobby, bahkan lantai dasar bangunan hotel. Hingga kini, ledakan bom di JW Marriott tercatat menewaskan 14 orang dan mencederai 150 orang, yang sebagian menderita luka ringan, dan sebagian lainnya menderita luka serius yang permanen. Pada 5 Agustus 2023, Yayasan FKAAI bekerjasama dengan Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), menyelenggarakan sebuah acara yang berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott’”. Dengan didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan POLRI (Densus 88 Anti Teror). Acara diselenggrakan di SHAN Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Yayasan FKAAI dan YKP mengundang 30 orang korban bom beserta keluarga, 40 orang mantan napiter, mantan kombatan, dan mantan jaringan beserta keluarga, juga mengundang perwakilan dari kalangan mahasiswa, media, dan para pemangku kepentingan dari pemerintahan. Acara juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial Yayasan FKAAI. Dalam kesempatan ini, turut digelar acara Rekonsiliasi antara para penyintas dan para mantan napiter. Saat para mantan napiter berhadapan di atas panggung acara bersama para penyintas, Umar Patek mewakili mantan napiter menyampaikan permintaan maaf kepada para korban atas segala perbuatan yang sangat merugikan bagi korban yang hadir di acara ini, maupun yang tidak dapat hadir. Mantan napiter Hisyam alias Umar Patek meminta maaf kepada para korban bom Hotel JW Marriot. “Assalamualaikum, saya Hisyam yang biasa dipanggil Umar Patek dan teman-teman para mantan napiter kami memohon maaf, atas semua dosa-dosa yang pernah kami lakukan terhadap bapak ibu semua dan saudara-saudara kita yang tidak bisa hadir di tempat ini,” kata Umar Patek. Beliau berharap permohonan maaf itu bisa menjadi peringan dari yaumul hisab. Umar Patek menyadari segala perbuatan di dunia, termasuk aksi teror bom Hotel JW Marriot pada 2003 silam akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Ta’Ala di akhirat kelak. “Sekalipun saya pernah mencegah, tapi tidak berhasil. Saya tetap dihantui kesalahan terus menerus. Demikian pula dengan teman-teman yang lain, semoga mau memaafkan kami,” Ujar Umar Patek dengan suara parau dan berlinang air mata. Setelah menyampaikan permohonan maaf, Umar Patek dan rekan-rekan mantan napiter lainnya langsung menyalami para korban yang juga hadir dalam acara peringatan 20 tahun tragedi Bom Marriot. Para korban juga langsung menyambut permintaan maaf tersebut. Salah satu perwakilan korban menyampaikan dia ikhlas dan bersedia memaafkan mantan Napiter yang melakukan pengeboman. Menurut salah satu korban yang tidak disebutkan identitasnya itu, walau berat tapi ia percaya Allah Maha Pemaaf. “Kita cuma manusia biasa semoga bapak semuanya tidak mengulangi lagi, bertaubat, benar-benar berada di jalan Allah yang tidak sesat, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Semoga tidak ada lagi pengeboman atau apapun di Indonesia khususnya, kami maafkan pak,” kata salah satu korban itu di sela-sela tangisnya. Suasana acara menjadi sangat emosional dan menyentuh relung hati tiap orang yang hadir menyaksikan momen langka tersebut. Lelehan air mata mengalir dari para korban, mantan pelaku, pun tamu undangan lainnya. Namun itu bukanlah air mata akibat meratapi nasib yang lalu, melainkan karena merasakan haru akan rasa kedamaian yang mulai tumbuh dari permintaan maaf yang disambut dengan penerimaan yang lapang dada. Sungguh sebuah tindakan luar biasa dari para korban, dengan keluasan hati dan kekuatan batin untuk menerima permintaan maaf dan mau memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Semoga hal ini menjadi awal baik untuk kesatuan dan persatuan bangsa Acara ditutup dengan bedah buku The Power of Forgiveness karya Tony Soemarno salah satu penyintas bom JW Marriot 2003. Acara Bedah Buku ini menghadirkan Tany Soemarno selaku penulis buku, Umar Patek sebagai narasumber yang merupakan mantan napiter, dan Mohd Adhe Bhakti, seorang peneliti Terorisme dan Direktur Eksekutif PAKAR, dan Dr. Zora A. Sukabdi seorang Peneliti dan Dosen UI sebagai Moderator. Secara garis besar, buku ini menceritakan sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, sejak beliau menjadi korban bom JW Marriott 2003 hingga menjadi aktivis deradikalisasi yang aktif mengunjungi dan berdiskusi dengan para narapidana kasus teror di dalam penjara. Perjalanannya mengunjungi napiter dari berbagai lapas, sebagai upaya untuk memaafkan dan membantu mereka menemukan jalan terang dalam hidupnya. Kisah beliau sangat inspiratif untuk dibagikan dalam mencegah terulangnya perbuatan aksi terorisme. Tanggapan menarik yang diberikan oleh Mohd Adhe Bhakti adalah bahwa Ia percaya akan kekuatan dari memaafkan yang dituliskan oleh Tony Soemarno dalam bukunya, sebagaimana Adhe Bhakti juga percaya akan kekuatan dari perubahan. Bahwa setiap orang bisa berubah, seperti contoh nyata yaitu seorang yang sekarang telah menjadi kawan di sampingnya, Umar Patek. Yayasan FKAAI berharap dengan menyelenggarakan acara Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku “The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” karya Tony Soemarno ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya terorisme agar kedepannya tidak terulang lagi tragedi-tragedi serupa di tanah air Indonesia.[]
20 Tahun Tragedi JW Marriott : Bukan soal Meratapi Tragedi, Namun Menjadi Pembelajaran Agar Tidak Terjadi Lagi Aksi Teror di Tanah Air Kita

Yayasan FKAAI kembali mengadakan acara peringatan tragedi bom JW Marriott pada hari Sabtu, 5 Agustus 2023 lalu di Shan Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Kegiatan ini berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” […]
Pesona Wanita Khawarij

Pesona Wanita Khawarij Ustad Sofyan Tsauri Salah satu penyerangan Polsek Astana Anyar Bandung, ternyata menyimpan cerita yang haru, tsk Agus Suyatno di khulu’ oleh istrinya, lalu menikah dengan dengan kawannya sendiri sesama kasus terorisme, singkat cerita Agus dan kawannya ini bebas bersama, terlihat mantan istri dan anaknya menjemput di seberang pulau Nusakambangan. Anaknya Agus Suyatno, bingung melihat Abinya, antara menjemput ayahnya yang baru atau Abinya yang asli, ternyata dia menjemput ayahnya yang baru, sepanjang perjalanan dari Nusakambangan ke Bandung terlihat Agus Suyatno menangis sedih, melihat istrinya dan anaknya bukan menjemput dirinya. Alasan di khulu’ karena Agus Suyatno di anggap murtad, karena dekat dengan kawan-kawannya yang NKRI, istrinya tidak sudi mempunyai suami yang murtad, waallahu alam, hal ini mengingatkan saya tentang kisah wanita khawarij di bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir di dalam bidayah wan Nihayah juz 7 halaman 314, menyebutkan kisah Ibnu Muljam. فأما ابن ملجم فسار إلى الكوفة فدخلها وكتم أمره حتى عن أصحابه من الخوارج الذين هم بها، فبينما هو جالس في قوم من بني تيم الرباب يتذاكرون قتلاهم يوم النهروان إذ أقبلت امرأة منهم يقال لها قطام بنت الشجنة، قد قتل علي يوم النهروان أباها وأخاها وكانت فائقة الجمال مشهورة به، وكانت قد انقطعت في المسجد الجامع تتعبد فيه، فلما رآها ابن ملجم سلبت عقله ونسي حاجته التي جاء لها، وخطبها إلى نفسها فاشترطت عليه ثلاثة آلاف درهم وخادماً وقينة. وأن يقتل لها علي بن أبي طالب, قال : فهو لك ووالله ما جاء بي إلى هذه البلدة إلا قتل علي، فتزوجها ودخل بها ثم شرعت تحرضه على ذلك… (garis kuning) “Adapun Ibnu Muljam ia pergi menuju Kufah dan merahasiakan urusannya terhadap teman-temannya bahkan sesama Khawarij yang bersamanya. Ketika ia duduk-duduk bersama beberapa orang dari bani Rabab mereka saling meng- ingat korban-korban mereka pada waktu perang di Nahrawan, tiba-tiba lewatlah seorang perempuan yang bernama Qutham bin Syajnah, yang bapak dan saudaranya terbunuh dalam perang Nahrawan ketika melawan Ali radhiyallahu anhu. Kecantikan Qutham sudah sangat terkenal, dan saat itu ia berjalan menuju masjid jami’ untuk beribadah. Ketika Ibnu Muljam melihatnya, ia menjadi tergila-gila dengan kecantikan Qutham hingga ia lupa dengan keperluannya, lalu ia melamar Qutham untuk dinikahinya. Perempuan itu memberi syarat agar ia diberi 300 ribu dirham, seorang pembantu dan seorang budak perempuan, serta agar ia membunuh Ali radhiyallahu anhu untuk membalaskan dendamnya. Ibnu Muljam berkata, ‘la (Ali) milikmu, demi Allah aku tidak datang ke negeri ini kecuali karena ingin membunuh Ali.’ Maka ia menikahinya dan masuk ke dalamnya dan segera wanita itu menyemangatinya untuk itu (membunuh Ali)… Di dalam hadist Bukhari dan Muslim, kita akan dapatkan seorang Rowi yang bernama Imron bin Hattan, seorang Tabi’in yang tergoda pesona kecantikan Hamnah, dan saya dapatkan kan lagi bidayah wan Nihayah di juz 8 عمران بن حطان الخارجي كان أولا من أهل السنة والجماعة؛ فتزوج امرأة من الخوارج حسنة جميلة جدًّا فأحبها، وكان هو دميم الشكل، فأراد أن يردها إلى السنة فأبت؛ فارتد معها إلى مذهبها. “Pada awalnya, Amran bin khattan al Khariji, adalah penganut Ahlussunnah wal Jamaah, lalu ia menikah dengan seorang wanita Khawarij yang sangat cantik, dan ia sangat mencintainya (adapun Imron bin Hattan seorang yang buruk rupa). la ingin kembali menganut Ahlussunnah, namun wanita itu enggan sehingga ia keluar dari ajaran Islam bersama wanita itu dan masuk ke dalam madzhabnya.” Kisah di atas sangatlah banyak, mereka banyak yang ingin tobat, kembali ke NKRI, tetapi meminta agar saya merahasiakan tobatnya, karena takut anak dan istrinya meninggalkan dirinya, saya pun menuliskan masalah ini dengan judul buku Wanita di pusaran Khawarij, ya memang mereka memang sangat militan, sebagaimana Qutham binti Syajnah dan Hamnah, waallahu alam Sofyan Tsauri
Kitab Al-Ibanah An Ushulid Diyanah

Kitab Al-Ibanah An Ushulid Diyanah Ustad Sofyan Tsauri Saya punya dua kitab yang berjudul Al-Ibanah An Ushulid Diyanah karya Al-Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, kitab pertama saya beli di tahun 2008 di pasar Senin Jakarta, terbitan DKI (Darul Kutub Ilmiah) Beirut Lebanon cetakan kedua tahun 1426-2005 M. Kitab kedua yaitu percetakan Darul bayan, cetakan ke 4 tahun 1442-2021 M, saya beli dengan Gus Nasrul belum lama ini, dengan tahqiq Syaikh Hamad bin Muhammad Al-Anshari Al- Khazraji al-Saadi, seorang ulama yang berasal dari Mali, pesisir Afrika yang lahir pada tahun 1924, hijrah ke Mekkah karena penjajahan Perancis saat itu. Beliau bertemu Syaikh Abdul-Latif bin Ibrahim bin Abdul-Latif Alu Syeikh dan Muhammad bin Ibrahim Alu al-Syeikh yang merupakan cicit keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, lalu Syaikh Hammad di rekomendasikan belajar di Najd (Riyadh sekarang) setelah itu beliau menjadi pengajar di fakultas syari’ah universitas Madinah. Beliau menulis dalam Mukadimah cetakan Darul bayan Damaskus, di halaman 21 beliau mengatakan وأن الله مستو على عرشه كما قال : ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْش استوى)وأن له وجهاً كما قال : ﴿ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِوَالْإِكْرَامِ ). وأن له يدين بلا كيف كما قال : لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ) وكما قال : ﴿ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ )وأن له عينين بلا كيف كما قال : ﴿ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا )وأن من زعم أن أسماء الله غيره كان ضالاً . Fix mereka meyakini Allah bertempat, mempunyai wajah, memiliki dua tangan, memiliki dua mata dengan Bila Kaif, waallahu alam Lalu di dalam Bab ke 7 di halaman 92, cetakan Darul bayan Damaskus ini juga menambahi kata2 استواء : يليق به من غير طول الاستقرار، Kalimat (stabilo orange) cetakan Maktabah Dar al-Bayan hal.92 استواءً يليق به من غير طول الاستقرار Akan tetapi tidak terdapat pada cetakan Dar al-Kutub Al-Imiyyah hal.46. Sehingga kalangan awam memahaminya dengan artian bahasa yaitu bersemayam, duduk, menetap, dengan kata lain yaitu menempati ‘Arasy, jelas ini sifat makhluq bukan Kholiq Ini beberapa sekelumit dan yang musykil, sepertinya kita harus berhati-hati membeli kitab, saya khawatir adanya madsus (susupan) aqidah mujasimah lalu tahrif atau mungkin ada yang Saqoth (hilang ibarot) di beberapa kitab lainnya yang serupa, waallahu alam. Sofyan Tsauri
Aqidah Salaf Abu Manshur Al -Maturidi (w. 333 H)

Aqidah Salaf Abu Manshur Al -Maturidi (w. 333 H) Ustad Sofyan Tsauri Umur Abu Mansur Al-Maturidi(w. 333 H) lebih tua dari al-Imam Abu Hasan Al-‘Asyari, guru-guru beliau di antaranya Abu Sulaiman Al-Juzjani lalu Abu Sulaiman belajar dengan 2 murid terbaik Imam Abu Hanifah yaitu Al-Qadhi Abu Yusuf (w.182 H)dan Muhammad bin Hasan Al-Syaibani (w. 189 H) Imam Abu Hanifah sendiri mempunyai kitab Aqidah yang berjudul Fiqh Akbar yang kemudian di Syarahi oleh Abu Mansur Al-Maturidi, artinya Aqidah Al-Maturidi sangat di pengaruhi oleh Aqidahnya Imam Abu Hanifah, demikian sanad Abu Mansur Al-Maturidi yang bersambung ke Imam Abu Hanifah, sementara Abu Hanifah merupakan produk dari madrasah Ahlu ro’yi dari ulamanya sahabat nabi yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhuma. Di sinyalir kitab Fiqhul Akbar adalah kitab tertua yang berbicara tentang Aqidah, argumentasi nalarnya tidak melampaui sebagaimana Mu’tazilah, demikian Abu Zahrah mengatakan. إن منهاج الماتريدية للعقل سلطان كبير فيه من غير أي شطط أو إسراف والأشاعرة يتقيدون بالنقل ويؤيدونه بالعقل. Sesungguhnya manhaj Al-Maturidi telah menggunakan argumentasi nalar (dalil aqli) dengan porsi yang cukup besar namun tanpa melampaui botas atau berlebihan. Sedangkan manhaj Al-Asy’ari berpegang teguh dengan dalil nagli dan mengukuhkannya dengan argumentasi nalar akal (dalil agli) (Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, Kairo Dar Al-Fikr, 2008 jilid 1 hal 212) Lalu dari Al-Maturidi inilah banyak melahirkan beberapa kitab, artinya madzhab Aqidah Al-Maturidi terverifikasi oleh ulama-ulama berikutnya seperti Kitab al-Musayarah Fii al-Aqa’id al-Munjiyah Fil al-Akhirah adalah sebuah kitab akidah karya Al-Imam al-Kamal Ibnu al-Humam al-Maturidi rahimahullahu ta’aala (w. 861 H). 18. Kitab Muljimatu al-Mujassimah, Kitab Muljimatu al-Mujassimah adalah sebuah kitab akidah karya Al- Imam Alauddin al-Bukhari al-Maturidi rahimahullahu ta’aala (w. 841 H). Diantara para ulama dari kalangan madzhab Maturidiyah yang mensyarah kitab al-Aqidah at-Thahawiyah adalah Al-Imam Akmaluddin al-Babarti, Al-Imam Syuja’uddin at-Turkistani dan Al-Imam Sirajuddin al-Ghaznawi. Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan kitabnya Al-Imam Abu Hanifah yang berjudul al-Fiqh al-Akbar. Dengan kitab syarah ini kita bisa melihat Salafi Wahabi yang mencoba untuk merubah atau memelintir isi kitab al-Fiqh al-Akbar karya Al-Imam Abu Hanifah. Sebagaimana kitab-kitab Fiqh juga melalui proses verifikasi dari Ashah dan Ashab nya, sehingga lahirlah sebuah Madzhab Fiqh yang mu’tamad (paten), demikian dalam madzhab Aqidah, melalui proses yang panjang, sehingga Madzhab fiqh Hanafiah dan madzhab Aqidahnya, tersebar dan membentang dari Eropa timur, Turki, Asia Tengah, Asia selatan Hindustan hingga ke Burma Rohingya, 46 persen dari populasi 1,7 milyar manusia, berpegang pada mazhab Fiqh dan Aqidah ini, demikian Aqidah Asya’irah juga membentang dari ujung Afrika Utara, di mulai negeri Maroko hingga ke Merauke Indonesia, Inilah Suwadzul ‘Adzhom sesungguhnya Waallahu’Alam (Bersambung). Sofyan Tsauri
