Yayasan FKAAI

Lawan Kejahatan Digital, Yayasan FKAAI Edukasi Masyarakat melalui Webinar Cyber Security Awareness

​JAKARTA – Ancaman siber tidak lagi hanya menyasar korporasi besar, namun kini telah masuk ke ranah privat dan keluarga. Merespons fenomena tersebut, Yayasan FKAAI sukses menggelar webinar bertajuk “Melindungi Keluarga dari Serangan Siber” pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2026 dari pukul 16.00-17.30 WIB. ​Acara yang berlangsung via Zoom ini menghadirkan Muhammad Rizki, seorang Presales Network Security dan Relawan Yayasan FKAAI di Divisi Media, sebagai narasumber utama. Webinar ini bertujuan untuk mengubah pengguna internet biasa menjadi individu yang memiliki kesadaran tinggi untuk mengenali dan menghindari ancaman digital. ​Antusias Partisipan ​Webinar ini menarik antusiasme yang tinggi dan aktif berdiskusi dengan dihadiri kurang lebih 60 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Kehadiran peserta mencakup pengurus dan anggota FKAAI, perwakilan pemerintah, anggota kepolisian, lembaga kontra radikalisme, hingga masyarakat umum.​Menariknya, acara ini juga diikuti oleh sejumlah mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini aktif berintegrasi kembali ke masyarakat. Keikutsertaan elemen yang beragam ini menunjukkan bahwa kesadaran akan keamanan siber telah menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. ​Dalam pemaparannya, Rizki menyoroti berbagai tren kejahatan siber yang kian canggih, mulai dari ransomware hingga eksploitasi celah keamanan pada perangkat pintar. Ia menjelaskan bahwa motivasi pelaku sangat beragam, tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga dorongan ideologi hingga upaya rekrutmen oleh kelompok tertentu melalui ruang digital.​” Kita harus waspada terhadap hal-hal yang terlihat sederhana namun fatal, seperti file instalasi .apk berkedok surat undangan digital atau situs phishing yang bertujuan mencuri data sensitif seperti OTP dan kata sandi, ” ujar Rizki. ​Praktik Terbaik dan Perlindungan Anak ​Peserta dibekali dengan berbagai langkah proteksi mandiri, seperti penggunaan password manager , aktivasi Two-Factor Authentication (2FA), hingga pemanfaatan layanan pemindai keamanan seperti Virustotal.com. Selain itu, orang tua diimbau menggunakan fitur Parental Control seperti Google Family Safety untuk memantau aktivitas digital anak.​Acara yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan pembagian doorprize berupa antivirus Bitdefender kepada peserta terpilih. Melalui kegiatan ini dan seminar Cyber Security yang akan datang, Yayasan FKAAI berharap kesadaran keamanan siber dapat tumbuh secara kolektif, menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi keluarga Indonesia. Editor: Erni Kurniati

FKAAI Distribusikan 100 Paket Sembako Lebaran untuk Korban Aksi Terorisme dan Eks-Napiter di Jakarta

JAKARTA – Yayasan Forum Komunikasi Aktifis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) kembali menyalurkan kepedulian di bulan suci Ramadhan. Bertempat di kantor yayasan, pengurus FKAAI telah menerima dukungan sosial berupa 100 paket sembako lebaran dari KOMINDA DKI Jakarta. Bantuan ini ditujukan bagi sasaran penerima manfaat yang mencakup penyintas (korban) aksi terorisme, keluarga napiter, mantan napiter, keluarga returni, hingga mitra program deradikalisasi di wilayah Jabodetabek. Apresiasi dari Para Penyintas Dukungan ini disambut baik oleh komunitas penyintas. Sri Lestari, pengurus dari Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), menyampaikan rasa syukurnya:“ Saya pengurus dan anggota dari Yayasan Keluarga Penyintas (YKP) mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pengurus FKAAI atas pemberian paketnya. Semoga amal ibadahnya Allah balas dengan ganjaran yang lebih baik lagi.” Senada dengan hal tersebut, Mahanani, yang juga merupakan seorang penyintas, memberikan pesan penuh semangat untuk keberlanjutan program ini:“ Terima kasih untuk FKAAI yang telah memberikan paket lebaran untuk tahun ini dan semoga paket lebaran ini membawa berkah bagi kita semua. Semoga juga untuk kegiatan selanjutnya kita akan lebih mengutamakan dan lebih semangat untuk para penyintas yang belum pernah datang ke FKAAI.” Catatan dan Harapan Pengurus Abdul Rohim Sidik, selaku pengurus FKAAI, memberikan apresiasi sekaligus evaluasi terkait tantangan distribusi tahun ini:“ Menurut saya, bingkisan lebaran dari Kominda sangat membantu dalam kondisi serba sulit pada tahun ini. Namun, yang menjadi perhatian saya adalah distribusi ke para penerima manfaat akan menyita waktu lebih lama karena lokasinya yang jauh dan minimnya tenaga untuk mengantar. Kalaupun penerima dikumpulkan di kantor FKAAI, itu juga akan menimbulkan masalah baru.” Ia berharap ke depannya terdapat manajemen panitia distribusi yang lebih efektif dan efisien agar paket dapat tersalurkan lebih cepat, serta adanya usulan tambahan uang saku untuk kebutuhan para penerima manfaat lainnya. Kegiatan ini merupakan implementasi dari visi Yayasan FKAAI untuk terus menebar kasih sayang bagi semua umat dan mempererat tali silaturahim antara mantan pelaku terorisme dengan penyintas aksi terorisme serta masyarakat luas. Editor: Erni Kurniati

KORMA: Ajak Umat Menjadi Insan Mulia di Bulan Ramadan

JAKARTA – Menyambut kemuliaan bulan suci Ramadan 1447 H, Yayasan Forum Komunikasi Aktivis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI) sukses menggelar kajian keagamaan yang menyejukkan bertajuk Kajian Online Romadhoon Menuju Akhlakul Karimah (KORMA) 2026 pada Ahad, 1 Maret 2026. Acara yang dilangsungkan melalui platform Zoom Meeting ini mengangkat tema inspiratif, “Menjadi Insan Mulia di Bulan Romadhoon Dengan Akhlakulkarimah”. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 16.00 an WIB ini dihadiri oleh 26 peserta dari pengurus harian FKAAI, pengawas FKAAI, pembina FKAAI, dan masyarakat umum. Meski dilaksanakan secara daring, antusiasme peserta terasa sangat kental sejak sesi streaming awal yang diiringi oleh percakapan hangat yang saling menyapa satu sama lainnya. Esensi Akhlak dalam Beribadah Acara dibuka secara resmi oleh MC (Master of Ceremony) yang membawakan suasana dengan energik dan santai — atau yang secara jenaka disebut oleh salah satu pembicara sebagai gaya “anak muda banget” (Gen-Z culture). Setelah pembukaan, sesi utama pun dimulai dengan menghadirkan Ustadz Ainul Bahri, atau yang akrab disapa Pak Guru, sebagai pemateri tunggal. Dalam ceramahnya, Ustadz Ainul Bahri menekankan di awal diskusi bahwa akhlak menepati posisi yang penting. Dari penjelasan hadis Rasulullah S.A.W. yang menyinggung soal menjadi “muslim yang baik” dan sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dalam hadis yang dijelaskan narasumber juga mengingatkan kembali pentingnya berbuat baik kepada keluarga (istri). Ini menyinggung sekali lagi, bagaimana pentingnya berbuat baik itu dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga, pertemanan, dan seterusnya ke lingkungan yang lebih luas. Dalam ceramahnya, banyak kutipan-kutipan menarik untuk direnungi, salah satunya adalah “Senantiasa antusias untuk melakukan kebaikan. […] Tidak pernah berhenti melakukan kebaikan. Apa saja peluang di dalam Islam, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuliskan, atau menyatakan ada pahala di dalamnya.” Di bulan Ramadan ini, narasumber mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi menjelaskan bahwa inti dari ibadah puasa adalah transformasi karakter. Menjadi insan mulia tidak bisa dipisahkan dari bagaimana kita memperlakukan sesama. Akhlakulkarimah adalah buah dari iman yang benar. Beliau juga mengingatkan bahwa bulan Ramadan adalah momentum “madrasah” atau sekolah singkat bagi setiap Muslim untuk memperbaiki tutur kata, kesabaran, dan empati kepada sesama. Interaksi dan Dinamika Acara Sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Meski sempat terjadi kendala teknis kecil terkait koneksi sinyal yang terputus, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta untuk bertanya. Pertanyaan yang masuk melalui kolom chat Zoom difilter oleh panitia untuk kemudian dijawab secara mendalam oleh Ustadz Ainul Bahri. Salah satu momen menarik menunjukkan bagaimana interaksi hangat terjadi antara pemateri dan peserta, menciptakan suasana kekeluargaan meskipun terpisah jarak. Kekuatan sinyal memang sempat menjadi tantangan, namun komitmen panitia dalam menjaga alur acara membuat kegiatan tetap berjalan sesuai rundown. Penutup yang Berkesan Menjelang waktu berbuka puasa, acara ditutup dengan doa dan ucapan terima kasih kepada narasumber serta seluruh peserta yang telah hadir. Panitia juga mengumumkan agenda kajian berikutnya yang diharapkan dapat terus menjadi wadah silaturahmi sekaligus peningkatan kapasitas keilmuan. Melalui kegiatan KORMA 2026 ini, diharapkan para peserta tidak hanya mendapatkan asupan ilmu secara kognitif, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, terutama selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan tahun ini. Penyusun : Erni KurniatiEditor : Erni Kurniati