Yayasan FKAAI

20 Tahun Tragedi JW Marriott : Bukan soal Meratapi Tragedi, Namun Menjadi Pembelajaran Agar Tidak Terjadi Lagi Aksi Teror di Tanah Air Kita

Facebook
Twitter
LinkedIn

20 Tahun Tragedi JW Marriott :

Bukan soal Meratapi Tragedi, Namun Menjadi Pembelajaran

Agar Tidak Terjadi Lagi Aksi Teror di Tanah Air Kita

Foto bersama perwakilan dari Yayasan FKAAI, YKP, LPSK, BNPT RI, dan POLRI di Acara Peringatan 20 Tahun Bom JW Marriott & Bedah Buku “The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott”

Yayasan FKAAI kembali mengadakan acara peringatan tragedi bom JW Marriott pada hari Sabtu, 5 Agustus 2023 lalu di Shan Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Kegiatan ini berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott’”. Dalam penyelenggaraan acara ini Yayasan FKAAI bekerjasama dengan mitra yayasan dari penyintas bom yaitu Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), dan didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan POLRI (Densus 88 Anti Teror). Yayasan FKAAI dan YKP mengundang 30 orang korban bom beserta keluarga, 40 orang mantan napiter, mantan kombatan, dan mantan jaringan beserta keluarga, juga mengundang perwakilan dari kalangan mahasiswa, media, dan para pemangku kepentingan dari pemerintahan. Acara juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial Yayasan FKAAI.


Perlu disadari bahwa ledakan bom di hotel JW Marriott di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 5 Agustus 2003 tersebut menyisakan duka mendalam bagi korban, dan juga merupakan cacatan hitam bagi kemanusiaan. Ledakan yang terjadi di hotel JW Marriott berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil. Sejumlah saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi kejadian saat itu, dan juga yang berada di rumah sakit mengisahkan bahwa ledakan sangatlah kuat. Bom tersebut menghancurkan seluruh restoran hotel, lobby, bahkan lantai dasar bangunan hotel. Hingga kini, ledakan bom di JW Marriott tercatat menewaskan 14 orang dan mencederai 150 orang, yang sebagian menderita luka ringan, dan sebagian lainnya menderita luka serius yang permanen.


Dengan menyelenggarakan acara Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku “The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” karya Tony Soemarno ini, Yayasan FKAAI berharap dapat membagikan kisah perjalanan hidup Tony Soemarno yang sangat inspiratif sebagai upaya mencegah terulangnya perbuatan aksi terorisme. Yayasan FKAAI berharap dengan memperingati sebuah tragedi bom dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya terorisme agar kedepannya tidak terulang lagi tragedi-tragedi serupa di tanah air Indonesia.


Acara dibuka oleh sambutan-sambutan, diawali oleh sambutan dari Ketua Yayasan FKAAI, Suhail, yang menyampaikan bahwa Paham Radikalisme adalah paham berbahaya, yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan banyak orang. Suhail berharap dengan acara peringatan ini menjadi upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dari bahaya paham radikalisme dan terorisme, agar tidak terjadi dan terulang lagi di masa yang akan datang.


Sambutan berikutnya diberikan oleh Vivi Normasari, penyintas Bom Marriott yang mewakili Ketua Yayasan Keluarga Penyintas (YKP). Vivi Normasari mengatakan, “Hari ini kita mengenang peristiwa bom 20 tahun silam, bukan untuk meratapi kejadian yang kita alami, tapi untuk  merefleksi diri kita agar menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, serta berdamai dengan jiwa kita untuk memaafkan para pelaku.”


Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) turut hadir dalam acara ini, dan memberikan sambutan yang diwakili oleh Dra. Handari Restu Dewi, M.M., yang merupakan Kepala Biro Pemenuhan Hak Saksi dan Korban LPSK, beliau memberikan pengertian kepada para audiens tentang derita dan luka para korban bom, “Bagi kita yang tidak mengalami, 2 dasawarsa adalah waktu yang lama. Tapi bagi para korban 20 tahun tersebut tidak dengan cepat dapat menyembuhkan luka, baik itu luka fisik maupun psikis.”


Sambutan terakhir disampaikan oleh perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RT, Brigjen. Pol. R. Achmad Nurwahid, Direktur Deradikalisasi BNPT RI. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Yayasan FKAAI dan YKP yang telah menyelenggarakan acara ini. “Saya mengucapkan terima kasih kpd panitia pelaksana, Yayasan FKAAI. Yayasan FKAAI ini yayasan yang spektakuler, yang mungkin hanya satu di dunia. Bagaimana mungkin yayasan terdiri dari pelaku terorisme, korban nya, penegak hukum nya, dapat bersatu dalam satu yayasan?” ujar beliau secara retoris. Kemudian beliau memberikan sebuah analogi yang tepat untuk acara peringatan ini, “Ibarat sebuah mobil, peristiwa ini menjadi kaca spion untuk kita. Agar kita senantiasa melihat ini sebagai pembelajaran. Jangan sampai terulang, penyintas, mitra deradikalisasi, penegak hukum termasuk BNPT bersatu menyongsong hari depan,” jelas Brigjen. Pol. R. Achmad Nurwahid. Beliau kemudian mengakhiri sambutan tersebut dengan menyampaikan sebuah ayat yang sangat sarat akan makna. Beliau mengutip surat QS. Al-A’raf Ayat 56, yang berbunyi, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada para muhsinin (orang yang berbuat kebaikan).”. Beliau mengingatkan kita semua untuk berbuat baik dan banyak meminta kebaikan kepada Allah Ta’Ala dengan penuh harap dan kesungguhan, karena sesungguhnya Rahmat Allah SWT bersama orang-orang yang berbuat baik (Muhsinin). Kemudian beliau menjelaskan lebih rinci, bahwa “Muhsinin” atau orang yang “ihsan” artinya adalah orang yang berbudi pekerti luhur, berakhlakul karimah, berprilaku mulia, dan salah satu prilaku mulia adalah memaafkan kesalahan orang lain.[]

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.

Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.

Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada para muhsinin (orang yang berbuat kebaikan).”

(QS. Al-A’raf Ayat 56)

Berita Terbaru

Kajian Bulanan Yayasan FKAAI “Meningkatkan Keimanan Dengan Persaudaraan”.

Jakarta, FKAAI – Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya, beberapa hadits Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224) dan “Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Berdasar tuntunan diatas Yayasan FKAAI pada hari Ahad (24/11/2024) kembali mengadakan kajian bulanan, yang merupakan program rutin Yayasan FKAAI setiap bulannya, dan pada kesempatan kali ini kegiatan dilaksanakan di Kantor Yayasan FKAAI di Gg. H. Sofiah No.21A, RT.5/RW.6, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tema yang diangkat dalam kajian bulanan November ini adalah “Meningkatkan Keimanan Dengan Persaudaraan”. Kajian yang diikuti oleh anggota Yayasan FKAAI beserta keluarganya (sekitar 50an peserta) ini diisi oleh Ustadz Zahroni (Mbah Zarkasih) dan Ustadz Nasir Abas (Pembina Yayasan FKAAI). Mbah Zarkasih dalam penyampaiannya sangat menekankan pada pentingnya bersandar pada para Ulama/orang yang berilmu dalam masalah-masalah agama,“FAS’ALU AHLADZDZIKRI INKUNTUM LAA TA’LAMUN.” Artinya “Maka bertanyalah kepada ahlu-dzdzikr jika kamu tidak mengetahui”. Pesan Mbah Zarkasih Sementara itu, Pembina Yayasan FKAAI Nasir Abas dalam penyampaiannya, pentingnya mengikuti apa yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaihi wa sallam,“Innamaa bu’itstu laa tammima makaaramal akhlaq.” Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” ujar Ustadz Nasir Abas. Acara kajian bulanan ini diharapkan menjadi salah satu penguat hubungan persaudaraan antar anggota Yayasan FKAAI, juga sarana silaturahmi dengan tokoh agama, apparat pemerintah serta Lembaga lainnya, yang juga diundang dalam setiap acara kajian bulanan seperti ini. Selanjutnya kajian dilanjutkan dengan tanya jawab, doa penutup dari Ustadz Mbah Zarkasih dan foto Bersama para peserta kajian.

Read More »
peluncuran buku tony soemarno

The Power of Forgiveness :

Antara Penyintas Bom dan Mantan Pelaku Terorisme 5 Agustus 2023 merupakan Hari Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott. Peristiwa ledakan bom di hotel JW Marriott di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 5 Agustus 2003 tersebut menyisakan duka mendalam bagi korban, dan juga merupakan cacatan hitam bagi kemanusiaan. Ledakan yang terjadi di hotel JW Marriott berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil. Sejumlah saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi kejadian saat itu, dan juga yang berada di rumah sakit mengisahkan bahwa ledakan sangatlah kuat. Bom tersebut menghancurkan seluruh restoran hotel, lobby, bahkan lantai dasar bangunan hotel. Hingga kini, ledakan bom di JW Marriott tercatat menewaskan 14 orang dan mencederai 150 orang, yang sebagian menderita luka ringan, dan sebagian lainnya menderita luka serius yang permanen. Pada 5 Agustus 2023, Yayasan FKAAI bekerjasama dengan Yayasan Keluarga Penyintas (YKP), menyelenggarakan sebuah acara yang berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott’”. Dengan didukung oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan POLRI (Densus 88 Anti Teror). Acara diselenggrakan di SHAN Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Yayasan FKAAI dan YKP mengundang 30 orang korban bom beserta keluarga, 40 orang mantan napiter, mantan kombatan, dan mantan jaringan beserta keluarga, juga mengundang perwakilan dari kalangan mahasiswa, media, dan para pemangku kepentingan dari pemerintahan. Acara juga disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial Yayasan FKAAI. Dalam kesempatan ini, turut digelar acara Rekonsiliasi antara para penyintas dan para mantan napiter. Saat para mantan napiter berhadapan di atas panggung acara bersama para penyintas, Umar Patek mewakili mantan napiter menyampaikan permintaan maaf kepada para korban atas segala perbuatan yang sangat merugikan bagi korban yang hadir di acara ini, maupun yang tidak dapat hadir. Mantan napiter Hisyam alias Umar Patek meminta maaf kepada para korban bom Hotel JW Marriot. “Assalamualaikum, saya Hisyam yang biasa dipanggil Umar Patek dan teman-teman para mantan napiter kami memohon maaf, atas semua dosa-dosa yang pernah kami lakukan terhadap bapak ibu semua dan saudara-saudara kita yang tidak bisa hadir di tempat ini,” kata Umar Patek. Beliau berharap permohonan maaf itu bisa menjadi peringan dari yaumul hisab. Umar Patek menyadari segala perbuatan di dunia, termasuk aksi teror bom Hotel JW Marriot pada 2003 silam akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Ta’Ala di akhirat kelak. “Sekalipun saya pernah mencegah, tapi tidak berhasil. Saya tetap dihantui kesalahan terus menerus. Demikian pula dengan teman-teman yang lain, semoga mau memaafkan kami,” Ujar Umar Patek dengan suara parau dan berlinang air mata. Setelah menyampaikan permohonan maaf, Umar Patek dan rekan-rekan mantan napiter lainnya langsung menyalami para korban yang juga hadir dalam acara peringatan 20 tahun tragedi Bom Marriot. Para korban juga langsung menyambut permintaan maaf tersebut. Salah satu perwakilan korban menyampaikan dia ikhlas dan bersedia memaafkan mantan Napiter yang melakukan pengeboman. Menurut salah satu korban yang tidak disebutkan identitasnya itu, walau berat tapi ia percaya Allah Maha Pemaaf. “Kita cuma manusia biasa semoga bapak semuanya tidak mengulangi lagi, bertaubat, benar-benar berada di jalan Allah yang tidak sesat, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Semoga tidak ada lagi pengeboman atau apapun di Indonesia khususnya, kami maafkan pak,” kata salah satu korban itu di sela-sela tangisnya. Suasana acara menjadi sangat emosional dan menyentuh relung hati tiap orang yang hadir menyaksikan momen langka tersebut. Lelehan air mata mengalir dari para korban, mantan pelaku, pun tamu undangan lainnya. Namun itu bukanlah air mata akibat meratapi nasib yang lalu, melainkan karena merasakan haru akan rasa kedamaian yang mulai tumbuh dari permintaan maaf yang disambut dengan penerimaan yang lapang dada. Sungguh sebuah tindakan luar biasa dari para korban, dengan keluasan hati dan kekuatan batin untuk menerima permintaan maaf dan mau memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Semoga hal ini menjadi awal baik untuk kesatuan dan persatuan bangsa Acara ditutup dengan bedah buku The Power of Forgiveness karya Tony Soemarno salah satu penyintas bom JW Marriot 2003. Acara Bedah Buku ini menghadirkan Tany Soemarno selaku penulis buku, Umar Patek sebagai narasumber yang merupakan mantan napiter, dan Mohd Adhe Bhakti, seorang peneliti Terorisme dan Direktur Eksekutif PAKAR, dan Dr. Zora A. Sukabdi seorang Peneliti dan Dosen UI sebagai Moderator. Secara garis besar, buku ini menceritakan sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, sejak beliau menjadi korban bom JW Marriott 2003 hingga menjadi aktivis deradikalisasi yang aktif mengunjungi dan berdiskusi dengan para narapidana kasus teror di dalam penjara. Perjalanannya mengunjungi napiter dari berbagai lapas, sebagai upaya untuk memaafkan dan membantu mereka menemukan jalan terang dalam hidupnya. Kisah beliau sangat inspiratif untuk dibagikan dalam mencegah terulangnya perbuatan aksi terorisme. Tanggapan menarik yang diberikan oleh Mohd Adhe Bhakti adalah bahwa Ia percaya akan kekuatan dari memaafkan yang dituliskan oleh Tony Soemarno dalam bukunya, sebagaimana Adhe Bhakti juga percaya akan kekuatan dari perubahan. Bahwa setiap orang bisa berubah, seperti contoh nyata yaitu seorang yang sekarang telah menjadi kawan di sampingnya, Umar Patek. Yayasan FKAAI berharap dengan menyelenggarakan acara Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku “The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” karya Tony Soemarno ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya terorisme agar kedepannya tidak terulang lagi tragedi-tragedi serupa di tanah air Indonesia.[]

Read More »

20 Tahun Tragedi JW Marriott : Bukan soal Meratapi Tragedi, Namun Menjadi Pembelajaran Agar Tidak Terjadi Lagi Aksi Teror di Tanah Air Kita

Yayasan FKAAI kembali mengadakan acara peringatan tragedi bom JW Marriott pada hari Sabtu, 5 Agustus 2023 lalu di Shan Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Kegiatan ini berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” […]

Read More »

Pesona Wanita Khawarij

Pesona Wanita Khawarij  Ustad Sofyan Tsauri Salah satu penyerangan Polsek Astana Anyar Bandung, ternyata menyimpan cerita yang haru, tsk Agus Suyatno di khulu’ oleh istrinya, lalu menikah dengan dengan kawannya sendiri sesama kasus terorisme, singkat cerita Agus dan kawannya ini bebas bersama, terlihat mantan istri dan anaknya menjemput di seberang pulau Nusakambangan. Anaknya Agus Suyatno, bingung melihat Abinya, antara menjemput ayahnya yang baru atau Abinya yang asli, ternyata dia menjemput ayahnya yang baru, sepanjang perjalanan dari Nusakambangan ke Bandung terlihat Agus Suyatno menangis sedih, melihat istrinya dan anaknya bukan menjemput dirinya. Alasan di khulu’ karena Agus Suyatno di anggap murtad, karena dekat dengan kawan-kawannya yang NKRI, istrinya tidak sudi mempunyai suami yang murtad, waallahu alam, hal ini mengingatkan saya tentang kisah wanita khawarij di bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir di dalam bidayah wan Nihayah juz 7 halaman 314, menyebutkan kisah Ibnu Muljam. فأما ابن ملجم فسار إلى الكوفة فدخلها وكتم أمره حتى عن أصحابه من الخوارج الذين هم بها، فبينما هو جالس في قوم من بني تيم الرباب يتذاكرون قتلاهم يوم النهروان إذ أقبلت امرأة منهم يقال لها قطام بنت الشجنة، قد قتل علي يوم النهروان أباها وأخاها وكانت فائقة الجمال مشهورة به، وكانت قد انقطعت في المسجد الجامع تتعبد فيه، فلما رآها ابن ملجم سلبت عقله ونسي حاجته التي جاء لها، وخطبها إلى نفسها فاشترطت عليه ثلاثة آلاف درهم وخادماً وقينة. وأن يقتل لها علي بن أبي طالب, قال : فهو لك ووالله ما جاء بي إلى هذه البلدة إلا قتل علي، فتزوجها ودخل بها ثم شرعت تحرضه على ذلك… (garis kuning) “Adapun Ibnu Muljam ia pergi menuju Kufah dan merahasiakan urusannya terhadap teman-temannya bahkan sesama Khawarij yang bersamanya. Ketika ia duduk-duduk bersama beberapa orang dari bani Rabab mereka saling meng- ingat korban-korban mereka pada waktu perang di Nahrawan, tiba-tiba lewatlah seorang perempuan yang bernama Qutham bin Syajnah, yang bapak dan saudaranya terbunuh dalam perang Nahrawan ketika melawan Ali radhiyallahu anhu. Kecantikan Qutham sudah sangat terkenal, dan saat itu ia berjalan menuju masjid jami’ untuk beribadah. Ketika Ibnu Muljam melihatnya, ia menjadi tergila-gila dengan kecantikan Qutham hingga ia lupa dengan keperluannya, lalu ia melamar Qutham untuk dinikahinya. Perempuan itu memberi syarat agar ia diberi 300 ribu dirham, seorang pembantu dan seorang budak perempuan, serta agar ia membunuh Ali radhiyallahu anhu untuk membalaskan dendamnya. Ibnu Muljam berkata, ‘la (Ali) milikmu, demi Allah aku tidak datang ke negeri ini kecuali karena ingin membunuh Ali.’ Maka ia menikahinya dan masuk ke dalamnya dan segera wanita itu menyemangatinya untuk itu (membunuh Ali)… Di dalam hadist Bukhari dan Muslim, kita akan dapatkan seorang Rowi yang bernama Imron bin Hattan, seorang Tabi’in yang tergoda pesona kecantikan Hamnah, dan saya dapatkan kan lagi bidayah wan Nihayah di juz 8 عمران بن حطان الخارجي كان أولا من أهل السنة والجماعة؛ فتزوج امرأة من الخوارج حسنة جميلة جدًّا فأحبها، وكان هو دميم الشكل، فأراد أن يردها إلى السنة فأبت؛ فارتد معها إلى مذهبها. “Pada awalnya, Amran bin khattan al Khariji, adalah penganut Ahlussunnah wal Jamaah, lalu ia menikah dengan seorang wanita Khawarij yang sangat cantik, dan ia sangat mencintainya (adapun Imron bin Hattan seorang yang buruk rupa). la ingin kembali menganut Ahlussunnah, namun wanita itu enggan sehingga ia keluar dari ajaran Islam bersama wanita itu dan masuk ke dalam madzhabnya.” Kisah di atas sangatlah banyak, mereka banyak yang ingin tobat, kembali ke NKRI, tetapi meminta agar saya merahasiakan tobatnya, karena takut anak dan istrinya meninggalkan dirinya, saya pun menuliskan masalah ini dengan judul buku Wanita di pusaran Khawarij, ya memang mereka memang sangat militan, sebagaimana Qutham binti Syajnah dan Hamnah, waallahu alam Sofyan Tsauri

Read More »

Kitab Al-Ibanah An Ushulid Diyanah

Kitab Al-Ibanah An Ushulid Diyanah  Ustad Sofyan Tsauri Saya punya dua kitab yang berjudul Al-Ibanah An Ushulid Diyanah karya Al-Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, kitab pertama saya beli di tahun 2008 di pasar Senin Jakarta, terbitan DKI (Darul Kutub Ilmiah) Beirut Lebanon cetakan kedua tahun 1426-2005 M. Kitab kedua yaitu percetakan Darul bayan, cetakan ke 4 tahun 1442-2021 M, saya beli dengan Gus Nasrul belum lama ini, dengan tahqiq Syaikh Hamad bin Muhammad Al-Anshari Al- Khazraji al-Saadi, seorang ulama yang berasal dari Mali, pesisir Afrika yang lahir pada tahun 1924, hijrah ke Mekkah karena penjajahan Perancis saat itu. Beliau bertemu Syaikh Abdul-Latif bin Ibrahim bin Abdul-Latif Alu Syeikh dan Muhammad bin Ibrahim Alu al-Syeikh yang merupakan cicit keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, lalu Syaikh Hammad di rekomendasikan belajar di Najd (Riyadh sekarang) setelah itu beliau menjadi pengajar di fakultas syari’ah universitas Madinah. Beliau menulis dalam Mukadimah cetakan Darul bayan Damaskus, di halaman 21 beliau mengatakan وأن الله مستو على عرشه كما قال : ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْش استوى)وأن له وجهاً كما قال : ﴿ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِوَالْإِكْرَامِ ). وأن له يدين بلا كيف كما قال : لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ) وكما قال : ﴿ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ )وأن له عينين بلا كيف كما قال : ﴿ تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا )وأن من زعم أن أسماء الله غيره كان ضالاً . Fix mereka meyakini Allah bertempat, mempunyai wajah, memiliki dua tangan, memiliki dua mata dengan Bila Kaif, waallahu alam Lalu di dalam Bab ke 7 di halaman 92, cetakan Darul bayan Damaskus ini juga menambahi kata2 استواء : يليق به من غير طول الاستقرار، Kalimat (stabilo orange) cetakan Maktabah Dar al-Bayan hal.92 استواءً يليق به من غير طول الاستقرار Akan tetapi tidak terdapat pada cetakan Dar al-Kutub Al-Imiyyah hal.46. Sehingga kalangan awam memahaminya dengan artian bahasa yaitu bersemayam, duduk, menetap, dengan kata lain yaitu menempati ‘Arasy, jelas ini sifat makhluq bukan Kholiq Ini beberapa sekelumit dan yang musykil, sepertinya kita harus berhati-hati membeli kitab, saya khawatir adanya madsus (susupan) aqidah mujasimah lalu tahrif atau mungkin ada yang Saqoth (hilang ibarot) di beberapa kitab lainnya yang serupa, waallahu alam. Sofyan Tsauri

Read More »

Aqidah Salaf Abu Manshur Al -Maturidi (w. 333 H)

Aqidah Salaf Abu Manshur Al -Maturidi (w. 333 H)  Ustad Sofyan Tsauri Umur Abu Mansur Al-Maturidi(w. 333 H) lebih tua dari al-Imam Abu Hasan Al-‘Asyari, guru-guru beliau di antaranya Abu Sulaiman Al-Juzjani lalu Abu Sulaiman belajar dengan 2 murid terbaik Imam Abu Hanifah yaitu Al-Qadhi Abu Yusuf (w.182 H)dan Muhammad bin Hasan Al-Syaibani (w. 189 H) Imam Abu Hanifah sendiri mempunyai kitab Aqidah yang berjudul Fiqh Akbar yang kemudian di Syarahi oleh Abu Mansur Al-Maturidi, artinya Aqidah Al-Maturidi sangat di pengaruhi oleh Aqidahnya Imam Abu Hanifah, demikian sanad Abu Mansur Al-Maturidi yang bersambung ke Imam Abu Hanifah, sementara Abu Hanifah merupakan produk dari madrasah Ahlu ro’yi dari ulamanya sahabat nabi yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhuma. Di sinyalir kitab Fiqhul Akbar adalah kitab tertua yang berbicara tentang Aqidah, argumentasi nalarnya tidak melampaui sebagaimana Mu’tazilah, demikian Abu Zahrah mengatakan. إن منهاج الماتريدية للعقل سلطان كبير فيه من غير أي شطط أو إسراف والأشاعرة يتقيدون بالنقل ويؤيدونه بالعقل. Sesungguhnya manhaj Al-Maturidi telah menggunakan argumentasi nalar (dalil aqli) dengan porsi yang cukup besar namun tanpa melampaui botas atau berlebihan. Sedangkan manhaj Al-Asy’ari berpegang teguh dengan dalil nagli dan mengukuhkannya dengan argumentasi nalar akal (dalil agli) (Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, Kairo Dar Al-Fikr, 2008 jilid 1 hal 212) Lalu dari Al-Maturidi inilah banyak melahirkan beberapa kitab, artinya madzhab Aqidah Al-Maturidi terverifikasi oleh ulama-ulama berikutnya seperti Kitab al-Musayarah Fii al-Aqa’id al-Munjiyah Fil al-Akhirah adalah sebuah kitab akidah karya Al-Imam al-Kamal Ibnu al-Humam al-Maturidi rahimahullahu ta’aala (w. 861 H). 18. Kitab Muljimatu al-Mujassimah, Kitab Muljimatu al-Mujassimah adalah sebuah kitab akidah karya Al- Imam Alauddin al-Bukhari al-Maturidi rahimahullahu ta’aala (w. 841 H). Diantara para ulama dari kalangan madzhab Maturidiyah yang mensyarah kitab al-Aqidah at-Thahawiyah adalah Al-Imam Akmaluddin al-Babarti, Al-Imam Syuja’uddin at-Turkistani dan Al-Imam Sirajuddin al-Ghaznawi. Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan kitabnya Al-Imam Abu Hanifah yang berjudul al-Fiqh al-Akbar. Dengan kitab syarah ini kita bisa melihat Salafi Wahabi yang mencoba untuk merubah atau memelintir isi kitab al-Fiqh al-Akbar karya Al-Imam Abu Hanifah. Sebagaimana kitab-kitab Fiqh juga melalui proses verifikasi dari Ashah dan Ashab nya, sehingga lahirlah sebuah Madzhab Fiqh yang mu’tamad (paten), demikian dalam madzhab Aqidah, melalui proses yang panjang, sehingga Madzhab fiqh Hanafiah dan madzhab Aqidahnya, tersebar dan membentang dari Eropa timur, Turki, Asia Tengah, Asia selatan Hindustan hingga ke Burma Rohingya, 46 persen dari populasi 1,7 milyar manusia, berpegang pada mazhab Fiqh dan Aqidah ini, demikian Aqidah Asya’irah juga membentang dari ujung Afrika Utara, di mulai negeri Maroko hingga ke Merauke Indonesia, Inilah Suwadzul ‘Adzhom sesungguhnya Waallahu’Alam (Bersambung). Sofyan Tsauri

Read More »