Yayasan FKAAI

Ngaji Syarah Waraqat, Bab Al-Af’alu (perbuatan Nabi), Lapas Cikeas, 9 Desember 2022

Facebook
Twitter
LinkedIn

Ngaji Syarah Waraqat, Bab Al-Af’alu (perbuatan Nabi), Lapas Cikeas, 9 Desember 2022


Ustad Sofyan Tsauri


Di dalam Syarah Waraqat dan Hasyiyah Dimyati halaman 13 di luar kotak paling bawah di sebutkan bab


أفعال الرسول – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –


Beberapa perbuatan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam


الأفعال هذه ترجمة. فعل صاحب الشريعة يعني النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لا يخلو إما أن يكون على وجه القربة والطاعة أو لا يكون فإن كان على وجه القربة والطاعة.


Perbuatan dari pemilik (penyampai) syariat, yakni Nabi Muhammad saw tidak lepas adakalanya dilakukan sebagai pendekatan diri dan ketaatan, atau tanpa ada unsur semacam ini. Jika perbuatan tsb sebagai pendekatan diri dan ketaatan


الأفعال المختصة بصاحب الشريعة


Beberapa perbuatan secara khusus pemilik syari’at


فإن دل دليل على الاختصاص به يحمل على الاختصاص، كزيادته – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – في النكاح على أربع نسوة.


manakala ditemukan dalil yang mengkhususkan bagi Nabi, maka diarahkan khusus bagi Nabi. Seperti Nabi saw menikahi lebih dari empat istri.

Penjelasan


Contoh perbuatan hanya khusus bagi Nabi di dalam Hadist riwayat Bukhari, Muslim dan Turmudzi


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ اَلْوِصَالِ, فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ: فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ? قَالَ: ” وَأَيُّكُمْ مِثْلِي? إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي “. فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ اَلْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا, ثُمَّ يَوْمًا, ثُمَّ رَأَوُا اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” لَوْ تَأَخَّرَ اَلْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ ” كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa wishal. Ada seorang muslim yang menyanggah Rasul, “Sesungguhnya engkau sendiri melakukan puasa wishal?” Rasul pun memberikan jawaban, “Siapa yang semisal denganku? Sesungguhnya aku di malam hari diberi makan dan minum oleh Rabbku.” Lantaran mereka tidak mau berhenti dari puasa wishal, Nabi berpuasa wishal bersama mereka kemudian hari berikutnya lagi. Lalu mereka melihat hilal, beliau pun berkata, “Seandainya hilal itu tertunda, aku akan menyuruh kalian menambah puasa wishal lagi.” Maksud beliau menyuruh mereka berpuasa wishal terus sebagai bentuk hukuman bagi mereka karena enggan berhenti dari puasa wishal. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1965 dan Muslim no. 1103).


Kenapa Hukum Puasa Wishol di harankan


1- Puasa wishal terlarang . Hikmah larangannya karena dapat mendatangkan dhoror (bahaya), melemahkan badan dan dapat mendatangkan kejemuan. Bahkan karena menyambungkan puasa dengan hari berikutnya dapat mengganggu aktivitas ibadah harian seperti shalat yang diperintahkan untuk disempurnakan dan memperbanyak membaca Al Qur’an.


Mengenai hukum puasa wishal, para ulama berbeda pendapat menjadi tiga pendapat sebagai berikut:

Pendapat pertama: Puasa wishal diharamkan Inilah pendapat mayoritas ulama yaitu madzhab Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i. Ibnu Hazm juga menegaskan akan haramnya. Di antara dalilnya hadits yang dikaji kali ini, karena kalimat Laa Tuwashilu yang di riwayatkan Turmudzi adalah kalimat Nahi yang bersifat mutlaq berarti


اَلْأَصْلُ فِي النَّفِي الْمُطْلَقِ يَقْتَضِي الدَّوَامَ


Bermula larangan yang mutlak menghendaki ditinggalkannya perbuatan selamanya.


Pendapat kedua: Puasa wishal dibolehkan jika mampu dilakukan. Inilah pendapat dari ‘Abdullah bin Az Zubair, bahkan diceritakan bahwa beliau melakukan puasa wishal sampai 15 hari. Demikian juga menjadi pendapat Abu Sa’id Al Khudri. Karena hal ini karena di hadist ada kalimat


….فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَر…..


….Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh).”…..


Yang artinya boleh karena ulama Ushul memahaminya


الأمر بَعْدَ النَّاهِي يُفيدُ الإِبَاحَة


Suruhan sesudah larangan berarti kebolehan”.


Sebab yang lebih mudah dimengerti, ialah adanya kebolehan ter- sebut. Apa yang mudah dimengerti, adalah arti (maksud) yang sebenar- nya.

Contoh lagi


كنتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا


Dulu saya melarang kamu menziarahi kuburan, maka sekarang siarahilah”(Hadis riwayat Muslim).


Di sini ziarah kuburan tidak wajib, sebab adanya suruhan itu sesudahnya dilarang. Selesai

Pendapat ketiga: Hukum puasa wishal itu dirinci. Puasa wishal masih dibolehkan hingga waktu sahur. Namun menyegerakan berbuka puasa ketika tenggelam matahari itu lebih afdhol. Jika ditambah lebih dari itu, maka dihukumi makruh. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, sebagian ulama Malikiyah, Ibnu Khuzaimah dari ulama Syafi’iyah dan sekelompok ulama hadits. Selesai


الأفعال غير المختصة بصاحب الشريعة


Beberapa perbuatan nabi yang tidak secara khusus Nabi (pemilik syari’at)


وإن لم يدل لا يختص به، لأن الله تعالى قال {لقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ } فيحمل على الوجوب عند بعض أصحابنا.
في حقه وحقنا لأنه الأحوط.
ومن أصحابنا من قال يحمل على الندب، لأنه المتحقق بعد الطلب.
ومنهم من قال يتوقف فيه، لتعارض الأدلة في ذلك. وإن كان على وجه غير وجه القربة والطاعة، فيحمل على الإباحة، في حقه وحقنا


Dan apabila dalil tersebut tidak ada, maka perbuatan tersebut tidak dikhususkan bagi Nabi. Sebab Allah swt telah berfirman, QS. Al-Ahzab : 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. Kemudian perbuatan tersebut diarahkan pada wajib menurut sebagian Ashhab Syafi’iyyah, baik bagi Nabi maupun bagi kita, karena hal ini lebih berhati-hati. Sebagian Ashhab ada yang menyatakan, diarahkan pada sunnah, karena hal ini lebih diyakini setelah adanya tuntutan. Sebagian Ashhab yang ain menyatakan ditangguhkan, karena dalil-dalil yang menjelaskan wajib dar sunnah saling bertentangan. Apabila perbuatan tersebut memiliki unsur selain sebagai pendekatan diri dan ketaatan, maka diarahkan pada mubah (boleh dilakukan), seperti makan dan minum, baik bagi nabi maupun bagi kita.



Penjelasan:

Perbuatan dari Nabi Muhammad saw ada dua jenis; A. Memiliki unsur pendekatan diri dan ketaatan, diperinci;

      1. Ada dalil yang mengkhususkan bagi nabi, maka diarahkan khusus bagi nabi. Seperti nabi yang memiliki lebih dari empat istri dalam pernikahan.

      1. Tidak ada dalil (yang mengkhususkan bagi nabi), maka tidak dikhususkan bagi nabi. Dan diarahkan pada wajib menurut sebagian Ashhab Syafi’iyyah, bagi Nabi dan bagi kita. Sebagian Ashhab menyatakan, diarahkan pada sunnah. Ashhab yang lain menyatakan ditangguhkan.

    Berita Terbaru

    peluncuran buku tony soemarno

    The Power of Forgiveness :

    Antara Penyintas Bom dan Mantan Pelaku Terorisme 5 Agustus 2023 merupakan Hari Peringatan 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott. Peristiwa ledakan bom di hotel JW

    Read More »

    20 Tahun Tragedi JW Marriott : Bukan soal Meratapi Tragedi, Namun Menjadi Pembelajaran Agar Tidak Terjadi Lagi Aksi Teror di Tanah Air Kita

    Yayasan FKAAI kembali mengadakan acara peringatan tragedi bom JW Marriott pada hari Sabtu, 5 Agustus 2023 lalu di Shan Café & Gallery, Atrium Lippo Mall Plaza Semanggi, Jakarta. Kegiatan ini berjudul “Memperingati 20 Tahun Tragedi Bom JW Marriott dan Bedah Buku ‘The Power of Forgiveness : Memoar Korban Bom JW Marriott” […]

    Read More »

    Pesona Wanita Khawarij

    Pesona Wanita Khawarij  Ustad Sofyan Tsauri Salah satu penyerangan Polsek Astana Anyar Bandung, ternyata menyimpan cerita yang haru, tsk Agus Suyatno di khulu’ oleh istrinya,

    Read More »